Gabungan keduanya menguasai pasar hingga Supermie pun kalah bersaing dan diakuisisi. Perlahan, kontrol Indofood sepenuhnya beralih ke tangan Salim.
Menjelang Badai: Grup Salim di Puncak
Awal 1990-an, Anthony mulai menyimpan aset di luar negeri. Ia berinvestasi di Singapura, Filipina, dan Hong Kong lewat First Pacific.
Tahun 1995, Salim Group memiliki lebih dari 600 perusahaan afiliasi dan mempekerjakan 200.000 orang. Sudono Salim tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia.
Media Barat menjuluki mereka “The Uncrowned King of Indonesian Economy.” Namun di balik kejayaan itu, ancaman mengintai.
Krisis 1998: Kehancuran Total
Krisis ekonomi Asia 1997-1998 menghantam Indonesia. Sentimen anti-Soeharto dan anti-Tionghoa membuat Salim Group jadi sasaran utama.
Kerusuhan Mei 1998 menghancurkan properti keluarga Salim. Rumah Sudono di Gunung Sahari dijarah dan dibakar massa. Sebanyak 122 kantor cabang BCA rusak, 150 mesin ATM dibobol, pabrik Indofood dibakar dengan kerugian Rp42 miliar.
Keluarga Salim harus menyuap setiap pos pemeriksaan untuk bisa kabur ke luar negeri. Hanya Anthony yang bertahan di Indonesia.
Utang Salim Group membengkak hingga US$12 miliar atau Rp55 triliun. Pemerintah transisi mendesak pelunasan dan mengambil alih bisnis.
Negosiasi dengan IMF
IMF setuju memberi pinjaman US$43 miliar untuk Indonesia dengan syarat: akhiri praktik kronisme. Tuntutan ini jelas mengarah pada konglomerat seperti Salim.
Agustus 1998, Anthony bertemu bankir dari Lehman Brothers dan JP Morgan. Menurut Wall Street Journal, Anthony berkata: “Jika kalian ingin membunuh kami, silakan. Tapi kalian akan kehilangan 100.000 pekerjaan.”

