Portal Pantura – Imam Sanusi, ulama besar ahli akidah, menegaskan bahwa seorang mukallaf (muslim dewasa) sebaiknya tidak merasa puas dengan keyakinan yang hanya berdasarkan ikut-ikutan atau taklid.
Taklid adalah mengikuti ajaran tanpa memahami dalil atau bukti yang mendasarinya. Menurut Imam Sanusi, taklid tidak menyelamatkan seseorang di akhirat, bahkan di dunia.
Taklid tidak menyelamatkan di akhirat. Bahkan saya tambahkan, tidak menyelamatkan di dunia dan di akhirat.
Risiko Keimanan yang Rapuh
Orang yang beragama secara taklid rentan mengalami keraguan ketika menghadapi syubhat (hal-hal yang meragukan).
Contohnya, seorang murid yang mengikuti gurunya secara membabi buta. Ketika sang guru berbuat maksiat, murid tersebut bisa kehilangan pegangan. Ia tidak bisa membedakan antara sosok guru dengan ilmu yang diajarkan.
Padahal, yang harus diikuti adalah ilmunya, bukan sosok gurunya. Hanya Rasulullah yang boleh diikuti baik sosok maupun ajarannya secara mutlak.
Dua Cara Keluar dari Taklid
Untuk keluar dari taklid, ada dua cara yang diajarkan:
1. Aktifkan Dalil Akal (Dalil Aqli)
Gunakan akal sehat untuk memahami kebenaran. Contoh sederhana: setiap bangunan pasti ada yang membangun. Begitu juga alam semesta yang teratur, pasti ada yang mengatur.
Matahari, bulan, dan planet bergerak sesuai orbit. Jika tidak ada yang mengatur, akan terjadi tabrakan. Akal langsung mengatakan ada yang mengatur—dalam bahasa Indonesia disebut Tuhan, dalam bahasa Arab disebut Allah.
Tim Redaksi
