Portal Pantura, Brebes – Suasana malam di Pendopo Eks Kawedanan Bumiayu berubah menjadi panggung refleksi spiritual dan kebudayaan. Komunitas Majelis Bangsa Manembah Bumiayu Raya menggelar acara bertajuk “Bumiayu Gregah tur Manembah” pada Sabtu, 19 Juli 2025. Lebih dari 200 peserta hadir, berasal dari berbagai latar belakang etnis, agama, dan komunitas.
Acara ini menjadi ruang lintas dialog dan budaya. Hadir dalam kegiatan tersebut tokoh-tokoh masyarakat, seniman, pegiat spiritual, ibu-ibu pengajian, warga Tionghoa, hingga pejabat pemerintahan. Camat Tonjong Lukman Hakim, SIP dan Ketua Kagama Cabang Brebes KRT Drh Ismu Subroto juga turut hadir.
Sorotan utama malam itu adalah kehadiran Ir. Setiawan Budhiarto atau yang akrab disapa Mas Iwan Manembah. Ia merupakan pemimpin pusat Majelis Bangsa Manembah dari Banjarnegara, yang dikenal sebagai tokoh spiritual penggerak gerakan manembah—sebuah ajaran yang menekankan pentingnya hidup dengan petunjuk hati nurani yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Spiritualitas yang Membumi

Panitia acara, Drs. Puad Hasan, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar seremonial budaya, tetapi ajakan untuk kembali mengenali jati diri spiritual masyarakat Bumiayu.
“Ini tentang membangkitkan potensi Bumiayu melalui spiritualitas dan budaya. Kita ingin masyarakat hidup damai, saling menghargai, tanpa sekat agama dan etnis,” ujar Puad.
Acara ini didukung berbagai komunitas, di antaranya Majelis Manembah Banjarnegara, Youtuber Brebes Selatan (Yoilubest), Baznas Brebes, Kagama Brebes, serta komunitas seni dan budaya lokal.
Panggung Interaktif Bernuansa Jiwa

Kegiatan dikemas secara artistik. Penampilan seruling dari Rahman Kan dan Jimmy, berpadu dengan musik akustik dari Komunitas Manembah Banjarnegara, menyuguhkan harmoni yang menyentuh jiwa.
Dua seniman Bumiayu, Alik Setiawan dan Anto, turut melukis secara langsung di tengah acara. Karya mereka menggambarkan makna manembah—sebuah pengabdian total kepada Tuhan melalui kesadaran hati nurani.
Sesi penyampaian materi oleh Mas Iwan menjadi inti dari acara. Ia mengajak seluruh peserta untuk menghidupkan hati nurani sebagai kompas kehidupan. Menurutnya, petunjuk Tuhan bisa dirasakan siapa saja, kapan saja, tanpa batas usia, agama, atau status.
“Manembah adalah hidup dalam petunjuk Tuhan. Dengarkan nurani, karena di sanalah dawuh Gusti berbicara,” tutur Mas Iwan di hadapan peserta.
Tim Redaksi
