IKLAN
News

Budaya dan Spiritualitas Bertemu di “Gregah tur Manembah” Bumiayu

Avatar photo
×

Budaya dan Spiritualitas Bertemu di “Gregah tur Manembah” Bumiayu

Sebarkan artikel ini
Para tokoh masyarakat, seniman, dan perwakilan instansi hadir dalam acara budaya "Bumiayu Gregah tur Manembah" yang digelar Komunitas Makelis Bangsa Manembah Bumiayu Raya di Pendopo Eks Kawedanan Bumiayu, Sabtu malam 19Juli 2025. Acara ini mengusung semangat spiritualitas, toleransi, dan kebangkitan budaya lokal. Foto: Istimewa.
Para tokoh masyarakat, seniman, dan perwakilan instansi hadir dalam acara budaya "Bumiayu Gregah tur Manembah" yang digelar Komunitas Makelis Bangsa Manembah Bumiayu Raya di Pendopo Eks Kawedanan Bumiayu, Sabtu malam 19Juli 2025. Acara ini mengusung semangat spiritualitas, toleransi, dan kebangkitan budaya lokal. Foto: Istimewa.

Nurani Sebagai Arah Hidup

Peseta antusias ikuti acara Gregah tur Manembah. Foto: Istimewa.
Peseta antusias ikuti acara Gregah tur Manembah. Foto: Istimewa.

Mas Iwan menekankan bahwa manembah bukan sekadar ritual agama. Ia adalah proses menyambung hati dengan Sang Pencipta, yang bisa dilakukan kapan saja, bahkan sambil beraktivitas.

“Dzikir harus terus mengalir di hati, agar koneksi dengan Tuhan tidak terputus. Jangan biarkan hati kosong,” ucapnya.

IKLAN

Ia menjelaskan bahwa inti dari ajaran manembah adalah kesadaran penuh bahwa manusia tidak punya kuasa apa-apa, dan semua kekuatan adalah milik Tuhan. Dengan kesadaran itu, manusia sebaiknya menjalani hidup hanya berdasarkan petunjuk Ilahi.

Penutupan dengan Prosesi “Open Nurani”

Sebagai penutup, dilakukan prosesi open nurani, yakni latihan spiritual untuk membuka kepekaan terhadap suara hati. Tanpa ritual rumit, peserta diajak untuk merenung dan menyatu dengan rasa.

Mas Iwan menyampaikan bahwa siapa pun bisa memulai perjalanan manembah—tidak perlu ritual khusus, biaya, atau persyaratan usia. Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan membuka hati.

“Langkah kecil ini bisa dimulai dari rumah, bersama keluarga. Dari situ akan muncul perubahan besar,” ujarnya.

Ajaran untuk Semua

Ajaran manembah, seperti yang disampaikan Mas Iwan, adalah proses sadar diri. Yakni, menyadari bahwa semua yang dimiliki adalah titipan Tuhan. Maka segala aktivitas—baik ibadah, pekerjaan, maupun relasi sosial—harus dijalani dengan tuntunan nurani.

“Manembah berarti terhubung terus-menerus dengan Tuhan lewat hati. Hidup akan terasa lebih damai, karena langkah kita senantiasa terarah,” pungkasnya.

Melalui acara ini, Komunitas Manembah Bumiayu tak hanya menampilkan tradisi budaya, tapi juga menyalakan kesadaran spiritual kolektif. Sebuah gerak kecil yang diyakini mampu menumbuhkan harmoni dan toleransi di tengah keberagaman.***

Tim Redaksi

Portal Pantura
Reporter Portal Pantura
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Portal Pantura

Terbaru dari Portal Pantura