Selain itu, Suratman juga menyinggung kondisi monumen GBN di Bumijawa yang saat ini tertimbun dan berada di belakang ruko.
Ia menyatakan akan bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Bumijawa untuk membangun ulang monumen tersebut.
Terkait penerbitan, Suratman mengatakan bahwa saat ini buku baru dicetak sebanyak 15 eksemplar untuk keperluan peluncuran.
Namun, pihaknya akan menggandeng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperbanyak dan mendistribusikannya ke sekolah serta desa dan kelurahan di Kabupaten Tegal.
“Buku ini bukan sekadar cerita rakyat, tapi berdasarkan bukti sejarah di lapangan. Kami buat full colour agar mudah dipahami terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran sejarah masyarakat Kabupaten Tegal serta melestarikan nilai-nilai perjuangan lokal yang selama ini kurang dikenal secara luas.

