Portal Pantura, Brebes – Tradisi halal bihalal di Kabupaten Brebes tahun ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Pertemuan yang digelar di kediaman Azmi Asmuni Majid, Perumahan D’Oasis, Desa Pulosari, justru berkembang menjadi forum diskusi reflektif lintas kalangan.
Sejumlah aktivis, tokoh agama, seniman, pemuda, hingga praktisi hukum yang hadir memanfaatkan momentum tersebut untuk bertukar gagasan mengenai berbagai isu sosial. Rangkuman pemikiran yang muncul dalam forum itu disampaikan oleh Dedy Agustian, jurnalis yang turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Menurut Dedy, ada kesepahaman di antara para aktivis bahwa gerakan sosial di Brebes perlu kembali pada esensi awalnya. Aktivisme dinilai tidak cukup hanya diwujudkan dalam forum diskusi atau simbol perlawanan, melainkan harus menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
“Gerakan sipil harus benar-benar hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan mereka, dan memberikan solusi nyata,” ujar Dedy.
Ia menegaskan, disiplin dan konsistensi menjadi fondasi utama dalam menjaga arah gerakan. Tanpa keduanya, aktivisme berisiko kehilangan relevansi dan hanya berhenti sebagai wacana sesaat.
Selain isu aktivisme, forum juga menyoroti kondisi dunia jurnalistik di daerah. Dedy mengungkapkan adanya fenomena oknum yang mengaku sebagai wartawan, namun tidak menjalankan prinsip kerja jurnalistik secara profesional.
Ia menggambarkan praktik yang terjadi, mulai dari sekadar menyalin siaran pers, mengandalkan konten media sosial, hingga menghadiri acara seremonial tanpa menghasilkan karya jurnalistik yang substansial.
“Kondisi ini tentu merugikan publik dan dapat menurunkan kepercayaan terhadap pers,” katanya.
Para peserta forum menilai, pers memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga marwah profesi melalui karya yang akurat, berimbang, dan beretika.
Dalam diskusi tersebut, halal bihalal juga dimaknai lebih dari sekadar tradisi saling memaafkan. Momentum Lebaran dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki relasi sosial dan memperkuat kepedulian antarwarga.

