Isu lain yang turut mencuat adalah fenomena pernikahan siri. Salah satu praktisi hukum yang hadir, Slamet, menjelaskan bahwa praktik tersebut secara agama dapat dianggap sah, namun berpotensi menimbulkan persoalan dalam aspek administrasi dan perlindungan hukum.
“Risiko yang muncul terutama terkait hak perempuan dan anak dalam aspek legal formal,” ungkapnya.
Di bidang ekonomi, diskusi menyinggung potensi koperasi sebagai instrumen penguatan ekonomi masyarakat. Konsep Koperasi Merah Putih disebut dapat menjadi alternatif dalam membangun kemandirian ekonomi jika dikelola secara profesional dan transparan.
“Koperasi bisa menjadi benteng ekonomi rakyat, bukan sekadar lembaga simpan pinjam,” jelas Dedy mengutip pandangan peserta.
Sementara itu, kalangan seniman dan pemuda turut memberikan perspektif terkait pentingnya pelestarian budaya lokal. Seni dan tradisi dinilai tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga memiliki potensi ekonomi dalam sektor kreatif.
Seorang seniman, Hendri, menekankan perlunya inovasi dalam mengemas budaya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Generasi muda didorong untuk memadukan nilai tradisi dengan pendekatan modern.
Gagasan lain yang muncul adalah gerakan “Brebes Membaca” yang diusulkan oleh kalangan pemuda. Program ini bertujuan menumbuhkan budaya literasi sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Literasi menjadi kunci untuk membangun masyarakat yang kritis dan adaptif terhadap perubahan,” kata Dedy.
Menutup forum tersebut, tuan rumah Azmi Asmuni Majid mengingatkan bahwa halal bihalal seharusnya menjadi ruang refleksi yang membawa manfaat nyata. Ia menekankan pentingnya menjadikan silaturahmi sebagai sarana membangun kolaborasi yang berdampak bagi masyarakat.
Pertemuan itu pun berujung pada satu kesimpulan bersama: Brebes membutuhkan ruang dialog yang terbuka, jujur, dan berorientasi pada aksi nyata demi mewujudkan masyarakat yang lebih bermartabat.***

