Portal Pantura, Brebes – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127 di Kabupaten Brebes tak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kesadaran lingkungan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Brebes, warga Desa Cikuya mendapatkan edukasi terkait pengolahan sampah organik dan pembuatan lubang resapan biopori.
Kegiatan sosialisasi yang digelar di Balai Desa Cikuya, Jumat (27/2/2026), menjadi bagian dari agenda non-fisik TMMD yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa secara berkelanjutan. Selain mempercepat pembangunan infrastruktur, program ini juga diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif warga terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Penyuluh Lingkungan DLH Brebes, Muhammad Solihin, hadir sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia mengajak masyarakat mengubah pola pikir terhadap sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Menurutnya, limbah dapur seperti sisa makanan dan dedaunan tidak seharusnya langsung dibuang, melainkan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.
“Sampah organik memiliki nilai guna jika dikelola dengan benar. Selain mengurangi volume sampah, kompos yang dihasilkan juga bisa dimanfaatkan sendiri atau bahkan bernilai ekonomis,” jelas Solihin di hadapan peserta.
Tak hanya teori, warga juga diperkenalkan dengan teknik pembuatan lubang biopori. Metode ini dinilai efektif untuk meningkatkan daya serap air ke dalam tanah, sehingga mampu mengurangi risiko genangan maupun banjir di lingkungan permukiman. Biopori juga berfungsi memperbaiki struktur tanah dan mendukung proses pengomposan alami.
Kepala Desa Cikuya, Sekod, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai, pembangunan desa tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas kebersihan dan kelestarian lingkungannya.
“Kami berharap Desa Cikuya tidak hanya berkembang dari sisi jalan dan fasilitas umum, tetapi juga menjadi desa yang bersih, sehat, dan nyaman dihuni,” ujarnya.
Pendampingan kegiatan turut dilakukan oleh Babinsa Koramil 14/Banjarharjo, Serka Sagiman. Ia menegaskan bahwa program non-fisik seperti penyuluhan lingkungan memiliki dampak jangka panjang yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fisik.
Menurutnya, pemahaman warga terhadap pengelolaan sampah dan pembuatan biopori dapat menjadi langkah preventif dalam menekan potensi banjir serta mencegah munculnya penyakit akibat lingkungan yang kurang terawat.
Antusiasme warga terlihat saat sesi praktik pembuatan biopori dimulai. Dengan pendampingan langsung dari narasumber, peserta mencoba membuat lubang resapan di sekitar lokasi kegiatan. Beberapa warga mengaku baru mengetahui manfaat biopori secara detail dan berencana menerapkannya di pekarangan rumah masing-masing.

