Yang istimewa dari kegiatan ini adalah luasnya kerja sama. Pemerintah, aktivis, warga duduk bersama, menyingsingkan lengan, dan menanam.
Mereka membuktikan bahwa kolaborasi bukan hanya jargon. Pokdarwis Pantai Pulo Kodok, sebagai perwakilan warga, bahkan menyampaikan langsung tiga usulan konkret kepada pemerintah kota.
Diantaranya peningkatan akses jalan, program perawatan lanjutan untuk tanaman (growing), dan pembangunan sabuk pantai yang kokoh.
Ketiga poin ini menjadi jembatan antara kerja-kerja simbolik dan aksi jangka panjang, bukan hanya seremonial Hari Bumi, tapi juga fondasi pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam setiap cangkul yang menancap ke tanah, ada pesan yang tertanam: bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak tak hanya menyadari pentingnya alam, tetapi ikut terlibat dalam menjaganya. Itulah perubahan paling mendasar yang ingin dicapai perubahan perilaku bukan sekadar pemandangan.
Bravo Mawar Hijau dan seluruh mitra telah menunjukkan bahwa harapan itu bisa tumbuh dari tanah berlumpur, dari semangat gotong royong, dari cinta pada bumi.
Di Pulo Kodok, hijau bukan lagi sekadar warna. Ia adalah sikap. Ia adalah janji. Dan di Hari Bumi ini, janji itu ditanam, disiram, dan terus dijaga bersama.***
Tim Redaksi
