Dukungan dari Kepolisian
Edukasi yang dilakukan masyarakat ini juga mendapat dukungan dari aparat kepolisian setempat. Kapolsek Bumiayu, AKP Edi Mardiyanto, SE, menilai langkah kolaboratif antara praktisi hukum, komunitas, dan warga merupakan strategi efektif untuk menekan kenakalan remaja.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas masyarakat ini. Polisi tidak bisa bekerja sendirian. Butuh peran serta semua pihak, terutama tokoh masyarakat dan komunitas, untuk menekan angka tawuran maupun balap liar,” ujarnya.
Edi menegaskan, pihak kepolisian akan terus melakukan patroli dan langkah penegakan hukum. Namun, ia menilai pendekatan edukatif jauh lebih baik untuk mencegah remaja terjerumus sejak awal.
“Kalau mereka sudah paham resiko hukum dan bahaya yang ditimbulkan, kami yakin angka pelanggaran bisa ditekan. Pencegahan tetap lebih utama daripada penindakan,” jelasnya.
Respon Masyarakat
Beberapa warga sekitar juga menilai kegiatan ini tepat sasaran. Seorang pedagang di sekitar lokasi mengaku sering merasa resah dengan keberadaan anak-anak muda yang nongkrong hingga larut malam.
“Kami tidak melarang mereka berkumpul, tapi sering kali ada yang bikin ribut, kadang juga ugal-ugalan di jalan. Kalau ada kegiatan positif seperti ini, mudah-mudahan bisa mengurangi masalah,” ungkapnya.
Upaya Preventif
Fenomena tawuran, balap liar, hingga keresahan akibat anak punk bukan hanya terjadi di Bumiayu, melainkan juga di berbagai daerah lain. Namun, langkah yang diambil oleh komunitas lokal bersama praktisi hukum di Bumiayu menjadi contoh konkret bahwa penyelesaian masalah sosial tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Diperlukan partisipasi aktif masyarakat, tokoh, dan komunitas setempat untuk menanamkan kesadaran sejak dini.
Kegiatan sederhana di teras toko itu memberi pesan kuat: edukasi bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan dengan cara yang membumi. Meski tidak mewah, dampaknya bisa terasa jika pesan yang disampaikan menyentuh hati anak-anak muda.
Harapan ke Depan
Ke depan, Slamet Riyadi bersama Komunitas Sandal Jepit berencana menggelar kegiatan serupa secara rutin di beberapa titik lain di Bumiayu. Mereka ingin menjangkau lebih banyak remaja, sekaligus membangun kesadaran kolektif agar fenomena tawuran dan balap liar bisa ditekan.
“Kalau hanya mengandalkan razia atau penindakan, masalah ini tidak akan selesai. Harus ada pendekatan persuasif dan edukasi yang terus-menerus,” pungkas Slamet.
Tim Redaksi
