Portal Pantura, Brebes – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Brebes menggelar Ngaji Budaya bertema “Pembangunan Berwawasan Ekologi: Gugatan Lelaku Seni, Budaya, dan Relijiusitas”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu (28/12/2025) di Gedung MWC NU Tonjong, Kabupaten Brebes.
Acara yang digelar bersama GP Ansor Kecamatan Tonjong ini menjadi wadah diskusi mengenai peran seni tradisi, nilai keislaman, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Hadirkan Tokoh Lesbumi dan NU
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain:
- Arba Karomaini (Ketua Lesbumi PCNU Brebes)
- Ki Haryo Enthus Susmono (Pengurus Lesbumi PWNU Jawa Tengah dan dalang nasional)
- KH. Izzudin Masruri (Penasehat Lesbumi PCNU Brebes)
- Drs. Atmo Tan Sidik (A’wan Syuriah PCNU Kota Tegal dan Pembina Rumah Literasi Waskita)
Seni sebagai Sarana Dakwah Kontekstual
Ketua Lesbumi PCNU Brebes, Arba Karomaini, menjelaskan bahwa Ngaji Budaya merupakan upaya Lesbumi menghadirkan seni sebagai media dakwah yang relevan dengan tantangan zaman. Ia menekankan bahwa seni dan budaya bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga alat membangun kesadaran kolektif.
“Lesbumi hadir untuk merawat tradisi, bukan membekukannya. Seni harus terus hidup dan berdialog dengan realitas sosial, termasuk isu lingkungan dan kemanusiaan,” katanya.
Kekuatan Narasi Seni Tradisi
Ki Haryo Enthus Susmono menyatakan bahwa seni tradisi memiliki kekuatan penyampaian pesan moral dan spiritual secara efektif. Menurutnya, pendekatan kultural menjadi cara efektif membangun kesadaran masyarakat di tengah arus modernisasi.
“Seni adalah bahasa yang paling jujur. Melalui seni, pesan agama dan kepedulian ekologis bisa disampaikan tanpa menggurui, tetapi menggerakkan,” ujarnya dalam sesi refleksi budaya.
Selaras dengan Nilai Islam
KH. Izzudin Masruri menegaskan bahwa seni dan budaya tidak bertentangan dengan nilai Islam, selama berangkat dari niat baik dan berorientasi pada kemaslahatan. Ia menilai Ngaji Budaya sebagai bentuk dakwah kultural Nahdlatul Ulama yang terbukti mampu merawat harmoni sosial.
“Islam Nusantara tumbuh dari dialog antara agama dan budaya. Ngaji Budaya ini menjadi contoh bagaimana seni bisa memperkuat iman dan akhlak,” tuturnya.
Pentingnya Literasi Budaya bagi Generasi Muda
Drs. Atmo Tan Sidik menekankan pentingnya literasi budaya dan spiritual di kalangan generasi muda NU. Ia menyebut kegiatan seperti Ngaji Budaya bukan sekadar seremonial, tetapi proses pendidikan sosial yang membangun kesadaran kritis.

