TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

MAPAG 1000 Tahun Chairil Anwar Hari Puisi Nasional, Prokem Tegalan Bahasa Rakyat yang Tak Mau Mati

×

MAPAG 1000 Tahun Chairil Anwar Hari Puisi Nasional, Prokem Tegalan Bahasa Rakyat yang Tak Mau Mati

Sebarkan artikel ini
MAPAG 1000 Tahun Chairil Anwar Hari Puisi Nasional, Prokem Tegalan Bahasa Rakyat yang Tak Mau Mati
IKLAN
Ukuran teks

Nama-nama seperti Eko Tunas, Lutfi AN, Jumadi, Wahyu Ranggati, dan Iwang Nirwana mengisi panggung. Namun yang membedakan mereka bukan sekadar puisi yang dibaca.

Melainkan bahasa yang digunakan sebuah bahasa campuran antara dialek Tegal, bahasa jalanan, dan gaya tutur khas anak muda zaman dulu.

Prokem Tegalan, begitulah mereka kerap menyebutnya, adalah bahasa rakyat. Lahir di jalanan, di pasar, di terminal, di warung kopi, namun menyimpan kedalaman kultural yang luar biasa.

iklan

Dan seperti semua budaya rakyat, ia rentan punah karena dianggap tak penting, tak baku, tak layak tampil di panggung resmi.

“Kami ingin Prokem ini punya panggung. Kami ingin orang tahu bahwa bahasa ini juga punya nyawa, punya cerita, punya estetika,” jelas Ipuk.

Malam itu, tak ada batas antara penonton dan penyair. Semua larut dalam suasana yang intim dan egaliter. Puisi-puisi dibacakan dengan lantang.

Terkadang diselingi tawa dan celetukan khas Tegal, membuat suasana seperti kumpulan sahabat sedang bernostalgia, bukan acara formal.

Namun di balik tawa itu, tersimpan harapan yang dalam bahwa bahasa ini dan budaya mengiringinya, tidak akan menghilang. Bahwa ada generasi muda yang masih mau duduk, mendengar, dan bahkan menulis puisi dalam bahasa ibunya sendiri.

“Kalau kami diam, Prokem bisa hilang. Dan kalau bahasa hilang, identitas juga ikut hilang,” kata Ipuk pelan, nyaris seperti bisikan.

Di tengah dunia yang makin seragam, suara-suara kecil seperti Prokem Tegalan terdengar asing. Tapi justru karena asing, ia layak didengar. Karena dari sanalah lahir semangat untuk merawat akar, agar pohon kebudayaan tak roboh.

Cahyo

Terbaru dari Cahyo