Beberapa peserta terlihat meneteskan air mata bukan karena lelah, melainkan karena haru. Mereka sadar, kemerdekaan bukan hanya tentang sejarah, tetapi tentang bagaimana generasi hari ini menjaga dan mengisinya.
Kepala Sub Seksi Ekowisata Priyadi Subejo, mewakili Administratur/KKPH Pekalongan Barat Prasetyo Lukito, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.
“Ini wujud rasa cinta tanah air yang luar biasa. Kami sangat mengapresiasi semua pihak yang ikut berperan, dan kami mengingatkan agar pendakian selalu dilakukan dengan aman dan mematuhi aturan. Jaga hutan kita, jaga negeri kita,” tegasnya.
Sedangkan Kapidin, Ketua Kompak dan sekaligus penggagas kegiatan pendakian dan pengibaran bendera telah menjadi tradisi tahunan.
Namun lebih dari itu, ia ingin menanamkan nilai: bahwa mencintai negeri bisa dengan dilakukan lewat banyak cara, salah satunya dengan menjaga alam dan membagikan semangat kebersamaan.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kita punya peran dalam menjaga Indonesia, baik dari sisi alam, budaya, maupun semangat kebangsaannya,” ungkapnya.
Gunung Slamet, dengan kemegahannya, menjadi saksi sunyi semangat yang tak pernah padam. Di puncaknya, Merah Putih berkibar gagah, ditemani kabut, angin, dan doa-doa dalam diam.
80 tahun sudah Indonesia merdeka. Tapi selama masih ada yang mendaki membawa semangat dan cinta tanah air,
Dan selama masih ada yang rela bersusah payah demi melihat Merah Putih di puncak tertinggi kemerdekaan itu akan terus hidup.***
Tim Redaksi
