Portal Pantura – Langit Brebes tampak mendung ketika puluhan pasang mata tertuju di halaman Komplek Pemerintahan Terpadu (KPT). Pagi itu, suasana berbeda terasa: lebih tegang, lebih fokus, lebih bergelora.
Seluruh unsur penanggulangan bencana Kabupaten Brebes berkumpul dalam satu momen penting Apel Gelar Pasukan dan Pengecekan Sarpras Penanggulangan Bencana 2025.
Di antara barisan tegap TNI–Polri, Satpol PP, dan pasukan SAR, tampak jajaran Perhutani KPH Pekalongan Barat berdiri gagah.
Mereka hadir bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi mempertegas komitmen: hutan dan alam Brebes harus dijaga, berapa pun harganya.
Apel yang dipimpin Wakil Bupati Brebes, Wurja, berlangsung khidmat namun sarat ketegangan. Setiap peserta apel diperiksa ketat mulai dari fisik personel dan kesiapan alat berat dan peralatan darurat.
Wakil Bupati Wurja dalam amanatnya pun menegaskan, Brebes kini berada pada fase kritis menghadapi cuaca ekstrem.
“Semua unsur harus siap bergerak cepat!” serunya, menggema memenuhi lapangan. Ancaman banjir, longsor, hingga angin puting beliung mengintai dan bisa muncul kapan saja.
Melalui Pabin Jagawana Pekalongan Barat, AKP Siswanto, Perhutani menegaskan dukungan penuh.
“Bencana tidak bisa dilawan sendirian. Karhutla, longsor, banjir, hingga pohon tumbang semua memerlukan sinergi total. Kami siap bersatu, siap bergerak.”
Sebagai penjaga kawasan hutan, Perhutani memegang peran strategis mencegah karhutla dan mitigasi bencana berbasis kawasan.
Kolaborasi dengan BPBD, TNI–Polri, dan unsur lain menjadi tameng utama dalam menghadapi ancaman yang kian semakin meningkat.
Kabupaten Brebes dikenal sebagai wilayah yang “sering mendapat giliran” saat musim bencana datang. Namun apel besar ini memberikan pesan tegas, Brebes tidak gentar, Brebes siap!
Semua komponen, mulai dari lembaga pemerintah hingga masyarakat, dipanggil untuk bersatu memperkuat pertahanan bencana.
Di tengah ancaman alam tak menentu, barisan apel pagi tersebut menjadi simbol
ketika semua bahu bersatu, Brebes akan kuat.***

