Kombinasi ini—pendekatan data-driven ditambah verifikasi lapangan—merepresentasikan strategi yang lebih matang dibanding hanya mengandalkan satu metode.
Rencana Intervensi: Siap Jika Harga Melonjak
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemerintah daerah Jawa Tengah tidak akan pasif. Jika harga mengalami lonjakan signifikan, sejumlah mekanisme siap diaktifkan:
- JTAB (Jawa Tengah Agribisnis Bersama) – program pemberdayaan petani lokal
- BI (Bank Indonesia) – melalui sektor perbankan
- Bulog – operasi pasar pangan
Ketiga pilar ini membentuk jaringan pertahanan terhadap inflasi pangan. Bulog khususnya punya kewenangan untuk melakukan operasi pasar terbuka—membanjiri pasar dengan stok pemerintah untuk menekan harga bila diperlukan.
“Kita payu JTAB, BI, termasuk Bulog untuk melakukan operasi pasar dan intervensi apabila harga bahan pokok mengalami kenaikan,” ujar Ahmad Luthfi.
Tantangan ke Depan: Seberapa Efektif Upaya Ini?
Upaya pemerintah patut diapresiasi, namun beberapa pertanyaan tetap terbuka. Kelangkaan daging sapi yang sudah dirasakan di lapangan menunjukkan bahwa masalah pasokan bukanlah hal yang mudah diintervensi hanya dengan operasi pasar. Jika kelangkaan memang ada, menekan harga tanpa menambah pasokan justru bisa kontraproduktif.
Selain itu, efektivitas operasi pasar Bulog bergantung pada seberapa cepat data SP2KP diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Koordinasi antara lembaga-lembaga pemerintah—yang terkenal lamban—menjadi kunci.
Namun untuk Lebaran 2026, langkah-langkah yang telah diambil setidaknya memberikan jaminan bahwa pemerintah hadir dan mengawasi. Bagi konsumen yang khawatir dengan lonjakan harga, hal itu sudah merupakan langkah positif dalam menciptakan rasa aman berbelanja menjelang momen penting tahun ini.***

