Portal Pantura – Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB University) berhasil mengukir prestasi sekaligus menghadirkan solusi konkret bagi rantai pasok pangan nasional. Melalui ajang Kompetisi Mahasiswa Nasional Bidang Ilmu Bisnis, Manajemen, dan Keuangan (KBMK) 2026, mereka merancang FRESH-UP, sebuah patch antibakteri inovatif berbasis limbah pertanian untuk mencegah pembusukan daging merah selama proses distribusi.
Inovasi yang diusung oleh Muh. Dzulfaiq Abrar, Muhammad Alwannuzully Ramadhan, dan Putu Meita Pridayanti ini lahir dari keprihatinan atas tingginya risiko food loss pada produk daging merah di Indonesia. Faktor iklim tropis serta kendala geografis dan logistik kerap membuat bahan pangan kaya protein tersebut cepat rusak sebelum sampai ke tangan konsumen.
Mengubah Limbah Jadi Teknologi Pangan Berdaya Saing
FRESH-UP menggabungkan dua konsep kemasan modern sekaligus, yakni kemasan aktif (active packaging) dan kemasan cerdas (smart packaging). Memanfaatkan hidrogel kitosan dan limbah bekatul, patch ini tidak hanya menjadi pelindung pasif, tetapi juga mampu bekerja secara aktif merespons kondisi lingkungan di dalam kemasan.
Langkah memanfaatkan bekatul dan ekstrak kulit buah naga ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Bahan yang semula dianggap limbah pertanian kini memiliki nilai tambah tinggi yang mendukung keberlanjutan sektor pangan.
Perwakilan tim inovator, Muh. Dzulfaiq Abrar, menjelaskan bahwa FRESH-UP dirancang khusus untuk memberikan perlindungan berganda pada produk daging.
“FRESH-UP hadir sebagai solusi untuk mengurangi food loss dengan menghadirkan sistem perlindungan yang tidak hanya aktif menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi juga mampu memberikan informasi kondisi produk secara langsung melalui perubahan indikator warna,” ujar Dzulfaiq.
Cara Kerja Teknologi pH-Responsive dalam Memantau Kesegaran Daging
Keunggulan utama FRESH-UP terletak pada kemampuannya merespons tingkat keasaman (pH) di dalam kemasan secara otomatis. Ketika aktivitas bakteri pembusuk mulai meningkat dan menyebabkan nilai pH naik, patch ini akan secara bertahap melepaskan senyawa antibakteri untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme tersebut.
Di saat bersamaan, ekstrak kulit buah naga yang terkandung di dalam patch berperan sebagai indikator visual alami. Warna indikator akan berubah sesuai dengan tingkat kesegaran daging. Dengan teknologi ini, distributor maupun konsumen dapat mengetahui kualitas daging tanpa perlu membuka kemasan yang berisiko memicu kontaminasi silang.
Muhammad Alwannuzully Ramadhan menegaskan bahwa teknologi ini dibuat agar siap diterapkan di dunia industri.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai teknologi, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi rantai pasok pangan Indonesia melalui pengurangan kehilangan produk selama distribusi,” ungkap Alwan.
Potensi Bisnis dan Kontribusi untuk Swasembada Protein
Selain unggul dari segi ilmiah, FRESH-UP juga dirancang memiliki kelayakan finansial yang matang. Tim IPB menyasar sektor bisnis (business-to-business/B2B) dengan target utama produsen, pemotong daging, dan distributor pasokan daging merah.
Berdasarkan analisis kelayakan bisnis, produk ini menunjukkan potensi pasar yang cerah melalui indikator finansial seperti Return on Investment (ROI), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan masa pengembalian modal (payback period) yang terukur.
Putu Meita Pridayanti berharap inovasi karya anak bangsa ini mampu memperkuat ketahanan pangan nasional menuju swasembada protein.
“Kami berharap FRESH-UP dapat menjadi salah satu solusi inovatif dalam menjaga kualitas pangan, mengurangi limbah, serta memperkuat sistem distribusi protein nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan,” tutur Meita.
Kehadiran FRESH-UP memvalidasi peran penting generasi muda terpelajar dalam menjawab tantangan logistik pangan nasional melalui pendekatan teknologi hijau berbasis sumber daya lokal.***
Penulis: Putu Meita Pridayanti/ Mahasiswa IPB University
Editor: Yudhi P

