Portal Pantura, Brebes – Perjalanan menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar tentang menyelesaikan studi dan memperoleh gelar akademik semata.
Bagi Siti Fadillah, wisudawati asal Nusa Tenggara Timur (NTT), kuliah jauh dari kampung halaman menjadi pengalaman berharga tentang kemandirian hidup.
Keputusan meninggalkan daerah asal untuk melanjutkan pendidikan tinggi tentu bukan perkara yang mudah bagi dirinya.
Jarak yang memisahkan dari keluarga serta tuntutan adaptasi lingkungan baru terus ia hadapi hingga mencapai wisuda ke-11 Universitas Peradaban pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Masa kuliah di Program Studi Agribisnis Universitas Peradaban menjadi ruang baginya untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan.
Siti Fadillah tidak hanya menimba ilmu akademik, tetapi juga belajar mengenal kehidupan masyarakat dengan latar belakang budaya beragam.
Menjadi mahasiswa perantauan menuntut Siti Fadillah untuk belajar hidup jauh lebih mandiri dari sebelumnya.
Jauh dari dekapan keluarga, berbagai kebutuhan dan tantangan sehari-hari harus diselesaikan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Semangat membara untuk menyelesaikan pendidikan menjadi kekuatan utamanya agar terus melangkah maju tanpa ragu.
Pengalaman merantau di Kabupaten Brebes turut memberinya kesempatan emas membangun rantai persahabatan dengan mahasiswa pelbagai daerah.
Perbedaan bahasa, kebiasaan, maupun latar belakang tidak pernah menjadi penghalang untuk menjalin hubungan erat antarsesama.
Keberagaman sosial tersebut justru menjadi pengalaman bernilai yang memperkaya cara pandang serta mengolah kedewasaan dirinya.
Lingkungan Universitas Peradaban, mulai dari dosen hingga tenaga kependidikan, menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan panjangnya.
Interaksi intensif di kampus memberikan pengembulan karakter yang kokoh di samping penyerapan materi kuliah formal.
Bagi mahasiswa perantauan dari Nusa Tenggara Timur, kelulusan ini membawa makna mendalam yang sangat personal.
Di balik proses perkuliahan, ada rasa rindu mendalam pada kampung halaman serta tekad membanggakan orang tua.
Doa, pengorbanan, serta kepercayaan penuh dari keluarga menjadi pendorong utama Siti Fadillah dalam melintasi berbagai hambatan.
Momen wisuda pun menjadi titik balik keberhasilan menembus batas geografis demi memperjuangkan masa depan yang terang.
Kisah perjuangan Siti Fadillah membuktikan bahwa latar belakang daerah bukanlah penghalang untuk terus belajar dan bertumbuh.
Pendidikan tinggi pada akhirnya membentuk keberanian menghadapi tantangan zaman serta kepedulian sosial yang nyata.
Pengalaman berharga di tanah perantauan ini menjadi bekal utama Siti Fadillah untuk berkontribusi positif bagi masyarakat luas.
Kelulusannya menjadi pengingat bahwa di balik toga wisuda terdapat perjuangan panjang, doa orang tua, dan keberanian luar biasa.***

