Portal Pantura, Purbalingga – Mengingat kembali sosok guru yang paling membekas dalam ingatan bukan sekadar bernostalgia. Bagi puluhan guru SMA Islam Terpadu (IT) Madani Purbalingga, pertanyaan tentang siapa guru yang paling berpengaruh dalam hidup mereka menjadi titik balik refleksi mendalam mengenai kekuatan komunikasi pedagogis di ruang kelas.
Universitas Peradaban melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) hadir menjawab tantangan tersebut. Bertajuk “Pemberdayaan Guru Pendidikan Islam dalam Pengembangan Komunikasi Pedagogis Reflektif dan Transformatif,” workshop ini bukan sekadar diskusi teori, melainkan langkah nyata untuk memanusiakan interaksi antara guru dan siswa.
Pentingnya Kualitas Hubungan Guru dan Siswa
Kepala SMA IT Madani Purbalingga, H. Lubabul Umam Abdillah Ma’ruf, S.H.I., menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya dengan pembaruan perangkat pembelajaran. Baginya, esensi pendidikan terletak pada kualitas hubungan yang terbangun antara pendidik dan peserta didik.
“Workshop ini pengingat bagi kami bahwa kualitas pembelajaran ditentukan oleh cara guru berinteraksi. Kami berharap materi ini bisa membangun hubungan belajar yang lebih positif dan bermakna di kelas,” ujarnya di sela kegiatan, Kamis (18/6/2026).
Kekuatan Kata-kata dalam Membentuk Karakter

Ketua Tim PkM Universitas Peradaban, Adnan Yusufi, M.Pd.I., menekankan bahwa setiap kata yang diucapkan guru adalah instrumen pembentuk masa depan. Komunikasi di kelas bukan sekadar alat transfer materi, melainkan medium untuk menanamkan nilai karakter.
“Setiap apresiasi, teguran, hingga cara merespons peserta didik berpengaruh jangka panjang. Guru harus sadar bahwa setiap pilihan kata memiliki konsekuensi pedagogis sekaligus kemanusiaan,” jelas Adnan.
Pendekatan Reflektif dan Aplikatif
Selama workshop, peserta tidak dijejali teori membosankan. Tim pelaksana yang terdiri dari Adnan Yusufi, Yukhsan Wakhyudi, dan Fahrul Ali Masykur mengajak guru untuk:
-
Mengingat pengalaman personal dengan guru berkesan.
-
Simulasi menghadapi berbagai karakter peserta didik.
-
Menyusun kalimat penguat motivasi belajar.
Asih Khofifah, salah satu peserta, mengaku mendapatkan sudut pandang baru. Ia menyadari banyak aspek komunikasi yang selama ini luput dari perhatiannya. “Materinya sangat dekat dengan keseharian dan bisa langsung diterapkan di kelas,” tuturnya.
Program ini tidak berhenti di workshop. Universitas Peradaban berkomitmen melanjutkan pendampingan daring dan refleksi akhir untuk memastikan perubahan perilaku mengajar yang berkelanjutan. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan dampak positif bagi dunia pendidikan di tingkat akar rumput.***

