Kerugian negaranya dihitung dari bea meterai yang tidak masuk kas negara. Setiap keping meterai ilegal berarti sepuluh ribu rupiah yang hilang. Dalam hitungan jutaan keping, selisihnya menjadi sangat besar.
Tiga Jenis Meterai Ilegal yang Perlu Dibedakan
Palsu, bekas pakai, dan salinan digital
Istilah palsu sering dipakai untuk semua kasus, padahal jenisnya berbeda. Pemalsuan meterai sendiri dikenal dalam tiga bentuk. Membedakannya penting, karena cara memeriksanya pun tidak sama.
Jenis pertama adalah tiruan yang dicetak menyerupai aslinya. Jenis ini yang paling banyak ditemukan dalam penindakan.
Jenis kedua adalah meterai bekas pakai yang direkondisi. Lembarnya diambil dari dokumen lama, lalu dibersihkan dan dijual kembali. Undang-undang mengatur jenis ini secara terpisah dengan ancaman yang berbeda.
Jenis ketiga muncul pada versi elektronik. Yang beredar adalah gambar meterai yang sudah pernah dipakai orang lain. Pembelinya baru sadar ketika sistem menolak pembubuhannya.
Cara Publik Memeriksa Meterai Tempel
Yang bisa dilihat mata dan dirasakan tangan
Pemeriksaan versi kertas masih bersandar pada indra. Terawang lembarnya ke arah cahaya, lalu perhatikan ketajaman cetakannya. Lambang negara dan angka nominalnya harus tampak tegas, bukan pecah.
Perhatikan juga jejak pemakaian sebelumnya. Meterai yang pernah dilepas biasanya bertepi tidak rata. Lapisan perekatnya menipis, dan permukaannya kadang menyisakan bekas tinta. Harga di bawah nominal resmi sudah menjadi peringatan paling awal.
Cara Memeriksa Versi Elektronik
Tiga jalur pemeriksaan resmi
Versi digital justru lebih mudah diperiksa, dan hasilnya tegas. Peruri menyediakan beberapa jalur yang bisa dipakai siapa pun:
1. Pindai gambar meterainya memakai aplikasi pemindai resmi dari penerbitnya
2. Klik gambar meterai pada pembaca PDF untuk melihat keterangannya

