Ia menjanjikan akan terus “mengupayakan” permintaan petani ke tingkat provinsi dan pusat meski belum mengetahui entah kapan akan terwujud.
Masalahnya, Bendung Cipero ternyata bukan urusan Pemkab, tapi Pemprov. Mirip seperti anak kos yang mau memperbaiki atap bocor, tapi harus minta izin ke induk semang di kota sebelah.
Tapi tenang, Pemerintah Kabupaten Tegal tetap akan “mendorong”. Entah mendorong air supaya mengalir, atau mendorong wacana agar tetap hidup di meja rapat.
Sebagai penutup acara yang penuh makna ini, pemerintah membagikan 20 paket sembako seperti beras, minyak, gula, dan mie instan kepada warga.
Dan hal ini disambut warga dengan senang hati, pasalnya kalau air dari Bendung Cipero belum mengalir, paling tidak ada air untuk merebus mie instan.
Warureja, bertahan di antara ladang-ladang kering, terus menabur harapan. Siapa tahu nanti ada “Bendung Cipero Emas” yang muncul berkat perhatian pemerintah.
Atau minimal, warga bisa membuka wisata bendung kering sebagai edukasi tentang pentingnya air dan kelangkaannya di era birokrasi.***

