Bagi mereka, pembangunan bukan hanya soal panggung dan lampu, tapi juga soal kenyamanan dan martabat. Di tengah beton dan aspal, Brebes sedang membangun ruang ekspresi, semangat kebersamaan, dan ekonomi rakyat kecil yang diberi panggung untuk tumbuh.
“Tak perlu bicara teori ekonomi berlapis. Cukup dengarkan suara tukang mainan, penjual es buah, dan pemuda kreatif yang merasa punya ruang untuk tampil dan tumbuh,” tegas Ketua Paguyuban PKL Pendopo Sejahtera, Ahmad Jazuli.
Dari nonton bareng Timnas Indonesia, Panggung Apresiasi Anak Muda setiap Sabtu malam, panggung budaya, hingga pasar malam rakyat, Alun-Alun Brebes bukan hanya menjadi pusat keramaian, tapi juga ruang kolektif yang menyatukan warga, pedagang, pemuda, dan komunitas lokal.
“Sejak ada event rutin, pembeli dari luar kota berdatangan, dan yang terpenting, kami merasa diakui sebagai bagian dari wajah kota Brebes,” ungkap Jazuli yang kesehariannya berjualan topi di pojok timur Pendopo Bupati Brebes.
Bupati Paramitha sedang membuktikan bahwa pembangunan bisa dimulai rasa dihargai, rasa diakui, dan rasa memiliki ruang di tengah kota. Bagi para pedagang, kehadiran event rutin bukan hanya meramaikan kota, tapi juga membuka pintu rezeki yang lebih luas. ***
Tim Redaksi


