Portal Pantura – Suara benturan keras yang memecah keheningan senja di ruas Jalan Nasional Pagojengan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jumat, 25 September 2026, bukan sekadar kecelakaan biasa.
Di balik insiden yang melibatkan truk molen dan tangki bahan bakar minyak Pertamina sekitar pukul 18.41 WIB itu, tersimpan potret buram mengenai standar keselamatan kerja konstruksi di jalur lintas tengah.
Kecelakaan ini membuka lembaran investigasi kecil tentang bagaimana sebuah proyek infrastruktur berisiko tinggi bersinggungan langsung dengan keselamatan publik tanpa pengamanan yang memadai.
Ruas jalan nasional sepanjang kurang lebih 700 meter di wilayah tersebut saat ini memang tengah mengalami pembongkaran dan pengecoran intensif.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, proyek perbaikan ini merupakan paket pekerjaan bernilai besar yang dimenangkan oleh PT PKS melalui mekanisme tender resmi.
Pelaksanaan teknis di lapangan kemudian didelegasikan kepada Haryadewa selaku subkontraktor pelaksana di bawah skema proyek tahun jamak atau Multi Years.
Namun, megahnya proyek infrastruktur berdurasi panjang ini mendadak dipertanyakan ketika standar operasional prosedur di lapangan diuji oleh situasi darurat.
Petaka bermula ketika mobil tangki BBM Pertamina bernomor polisi B 9376 FFV yang dikemudikan oleh Joni, warga Maos, Cilacap, meluncur tanpa kendali.
Kendaraan berat bermuatan cairan mudah terbakar itu mengalami indikasi kegagalan fungsi pengereman atau rem blong saat melintasi kontur jalan yang menantang.
Di tengah kepanikan massal para pekerja dan pengguna jalan, Dayat, pengemudi truk molen berpelat nomor B 9141 FIN, mengambil keputusan sepersekian detik yang heroik.
Ia dengan sengaja memposisikan truk molennya untuk menghalangi laju truk tangki yang meluncur kencang ke arah zona padat pekerja proyek.
Meski benturan samping tak terelakkan dan memicu kemacetan total, tindakan sadar Dayat berhasil meredam potensi bencana ledakan yang jauh lebih masif.
Insiden menegangkan ini langsung memantik reaksi keras dari masyarakat sekitar yang selama ini memantau jalannya proyek secara dekat.
Warga menilai aktivitas pengecoran di jalur utama yang padat kendaraan menyimpan potensi kerawanan luar biasa tinggi jika tidak diiringi mitigasi risiko yang ketat.
Medan jalan yang berat menuntut kehadiran pengamanan lalu lintas yang disiplin, bukan sekadar pengerjaan fisik tanpa koordinasi matang.
Sorotan tajam pun diarahkan langsung kepada manajemen pelaksana proyek yang dinilai abai terhadap aspek perlindungan publik dan pekerja.
Warga mendesak agar pihak korporasi pemenang tender segera duduk bersama aparat penegak hukum untuk merumuskan ulang sistem rekayasa lalu lintas.
Tanpa adanya penjagaan ketat dan rambu peringatan dini yang memadai, proyek perbaikan jalan dikhawatirkan berubah menjadi teror bagi para pelintas.
Hingga berita ini diturunkan, jajaran kepolisian setempat masih bekerja keras mengumpulkan alat bukti serta meminta keterangan dari para pengemudi.
Pemeriksaan mendalam terhadap sistem pengereman truk tangki dan kelayakan operasional di zona proyek menjadi fokus utama penyelidikan.
Publik kini menanti ketegasan aparat dan instansi berwenang untuk mengevaluasi total pelaksanaan proyek infrastruktur ini.
Sebab, taruhan dari setiap jengkal pembangunan jalan nasional di jalur vital Brebes ini adalah nyawa manusia yang tidak boleh dikompromikan demi alasan apapun.***
Tim Redaksi
Rubik CELOTEH REDAKSI merupakan pandangan atau opini dari redaksi.
