IKLAN
Teknologi

UP Phone, Ponsel Anti Sadap yang Klaim Tak Bisa Dilacak Google dan Apple

Avatar photo
×

UP Phone, Ponsel Anti Sadap yang Klaim Tak Bisa Dilacak Google dan Apple

Sebarkan artikel ini

Portal Pantura – Apakah Anda pernah mencari satu produk di internet, lalu mendapati iklannya muncul terus-menerus di media sosial atau aplikasi lain? Fenomena itu bukan kebetulan. Data Anda sedang dikumpulkan, dianalisis, dan dijual oleh perusahaan besar di balik layar.

Kekhawatiran soal privasi digital inilah yang mendorong munculnya UP Phone — sebuah smartphone buatan perusahaan teknologi Unplugged yang mengklaim bebas dari pelacakan data.

IKLAN

Didirikan oleh Eric Prince, mantan CEO perusahaan keamanan Blackwater, dan Joe While, mantan insinyur senior di Apple, Unplugged ingin memberikan alternatif bagi pengguna yang ingin kembali memegang kendali atas data pribadi mereka.

Smartphone Tanpa Jejak Digital

UP Phone dirancang seperti ponsel pintar pada umumnya. Pengguna tetap bisa menelpon, berkirim pesan, berfoto, hingga mengakses media sosial. Bedanya, seluruh aktivitas dilakukan tanpa meninggalkan jejak data yang bisa dikumpulkan pihak ketiga. Tujuanya sederhana: menghadirkan ponsel yang aman, nyaman, dan tetap mudah digunakan.

Ponsel ini dilengkapi sistem keamanan berlapis, mulai dari firewall internal hingga pemblokiran otomatis terhadap pelacak data pihak ketiga. Dengan begitu, pengguna tidak akan terhubung ke jaringan pengiklan yang biasanya memantau aktivitas digital pengguna.

Reaksi Dunia Teknologi

Joe While, sang CEO Unplugged, mengaku ide ini lahir dari kekecewaannya terhadap lingkungan kerja di raksasa teknologi tempat ia dulu bekerja.

Ia mengaku ketika bergabung di Apple, lingkungan kerjanya profesional dan netral. Namun setelah 2016, semuanya berubah menjadi sangat politis.

Menurutnya, industri teknologi besar kini tidak hanya berorientasi bisnis, tapi juga telah membangun ekosistem digital yang terlalu dalam mengatur kehidupan pribadi pengguna. Iamerasa perusahaan-perusahaan ini menciptakan masa depan yang tidak aman bagi anak-anaknya.

Bahaya di Balik Layar

Eric Prince menjelaskan bahwa praktik pelacakan data bermula setelah tragedi 11 September 2001. Pemerintah Amerika Serikat saat itu menggunakan data digital untuk melacak pola terorisme. Namun, teknologi itu kemudian diambil alih oleh industri periklanan.

Sekarang semua aplikasi bekerja di atas sistem yang disebut surveillance capitalism, yaitu model bisnis berbasis pengawasan.

Tim Redaksi

Julista Putri
Reporter Julista Putri
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura