Setiap kali pengguna membuka aplikasi, data seperti lokasi, kontak, kebiasaan belanja, hingga jam tidur bisa dikumpulkan. Data itu lalu dijual ke pengiklan, atau bahkan bisa diakses oleh lembaga pemerintah.
Google, misalnya, dilaporkan membayar puluhan miliar dolar per tahun kepada Apple hanya untuk menjadi mesin pencari default di iPhone. Semua demi mengakses data pengguna.
Anak-anak Jadi Sasaran
Yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini juga menyasar anak-anak. Joe menyebut, Rata-rata anak berusia 13 tahun sudah memiliki sekitar 72 juta data poin yang dikumpulkan dari aktivitas daring mereka.
Data itu digunakan algoritma untuk membentuk profil digital anak—sebuah situasi yang ia sebut sebagai “grooming digital”.
Hal ini bisa berbahaya karena data semacam itu dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi perilaku, preferensi, bahkan opini politik seseorang.
Menangkal Pelacakan Data
Menurut Joe, UP Phone mampu mencegah semua itu. Ia memblokir semua aplikasi dari mengirim data ke server pihak ketiga. Tidak ada ID iklan, tidak ada pelacakan lokasi, tidak ada data yang bisa dibeli siapa pun.
Bahkan, perangkat tersebut memiliki sistem penghitung yang menunjukkan berapa kali ponsel berhasil memblokir upaya pelacakan. Dalam satu hari, angka itu bisa mencapai ribuan kali.
Artinya, setiap hari ponsel biasa mengirim ribuan permintaan data keluar tanpa disadari pengguna. Dan Joe berhasil menghentikannya.
Privasi Adalah Hak, Bukan Fitur
Di tengah dominasi raksasa teknologi seperti Google dan Apple, langkah Unplugged menghadirkan UP Phone bisa menjadi sinyal perubahan.
Meski belum sepopuler iPhone atau Android, perangkat ini menandai gerakan baru di dunia teknologi: mengembalikan kendali data ke tangan pengguna.
Tim Redaksi
