IKLAN
Gaya Hidup

Kepala Pusing Setelah Buka Puasa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Avatar photo
×

Kepala Pusing Setelah Buka Puasa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. (Foto: Kindel Media/pexels)

Portal Pantura – Keluhan pusing setelah berbuka ternyata lebih umum dari yang dikira. Bukan sekadar kelelahan biasa, ada mekanisme tubuh yang perlu dipahami di baliknya.

Momen berbuka seharusnya menjadi waktu yang dinantikan. Namun, sebagian orang justru merasakan kepala berputar, terasa ringan, bahkan disertai mual sesaat setelah menyantap hidangan berbuka. Kondisi ini kerap membingungkan dan mengganggu, terutama ketika masih ada salat Magrib dan tarawih yang harus ditunaikan.

IKLAN

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh?

Lonjakan dan Penurunan Gula Darah, Biang Keladi Utama

Selama berpuasa sekitar 12 jam atau lebih, tubuh tidak mendapat asupan makanan maupun minuman sama sekali. Dalam rentang waktu itu, kadar gula darah perlahan menurun. Kondisi ini sebetulnya masih dalam batas wajar selama tubuh sehat.

Masalah muncul ketika waktu berbuka tiba dan banyak orang langsung mengonsumsi makanan dan minuman manis dalam porsi besar sekaligus. Respons tubuh terhadap asupan gula yang tiba-tiba dan berlebihan inilah yang memicu rangkaian reaksi berikut:

Pertama, kadar gula darah melonjak drastis dalam waktu singkat. Kedua, pankreas merespons dengan melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk menekan lonjakan tersebut. Ketiga, produksi insulin yang berlebih justru membuat gula darah turun terlalu cepat setelahnya — kondisi ini dikenal sebagai hipoglikemia reaktif.

Ketika gula darah jatuh mendadak, tubuh mengirimkan sinyal berupa lemas, gemetar, berkeringat, hingga kepala pusing. Inilah jawaban utama dari pertanyaan yang sering muncul seputar pusing setelah berbuka .

Faktor Lain yang Memperparah Kondisi

Pusing setelah berbuka tidak selalu berdiri sendiri. Seringkali kondisi ini merupakan akumulasi dari beberapa faktor yang sudah berlangsung sejak siang hari.

Dehidrasi menjadi salah satu pemicu paling umum. Kurangnya cairan membuat aliran darah menuju otak tidak optimal, yang kemudian memunculkan gejala seperti sakit kepala, lemas, dan urine berwarna lebih gelap dari biasanya.

Tekanan darah rendah juga bisa menjadi faktor. Saat tekanan darah menurun, suplai darah ke otak berkurang dan memunculkan sensasi melayang atau pandangan berkunang-kunang.

Tim Redaksi

Julista Putri
Reporter Julista Putri
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura