Portal Pantura – Kawasan Hutan Wana Bei di Kabupaten Brebes kembali membara pada Senin siang. Si Jago Merah melahap area vegetasi seluas seperempat hektare dalam waktu beberapa jam.
Kobaran api pertama kali terdeteksi warga sekitar pukul 11.00 WIB di Petak 39, Dukuh Cigobang, Desa Kedungoleng. Peristiwa ini langsung memicu respons cepat dari aparat gabungan dan warga setempat.
Perjuangan Pemadaman Petugas dan Warga
Tim Perhutani bersama Mantri Kehutanan langsung terjun ke lokasi kejadian untuk menjinakkan api. Warga sekitar turut bahu-membahu melakukan pemadaman manual secara gotong royong.
Upaya ekstra tersebut akhirnya membuahkan hasil manis pada sore hari menjelang pukul 15.30 WIB. Api berhasil dikuasai sepenuhnya tanpa menyisakan kepulan asap berbahaya.
Dampak dan Ancaman Berulang
Asper BKPH Paguyangan KPH Pekalongan Barat, Sasmita, mengonfirmasi insiden yang menghanguskan lahan seluas 0,25 hektare tersebut. Ratusan pohon pinus produktif di area itu dipastikan terdampak hebat.
Kendati demikian, Sasmita menyebut belum ada estimasi kerugian material yang bisa dipaparkan. Alasannya, struktur pohon pinus dilaporkan masih berdiri kokoh dan tidak ada yang tumbang.
Catatan Hitam dan Rencana Evaluasi
Kejadian ini mencatatkan rekor buruk karena terulang kembali dalam rentang waktu yang sangat singkat. Sebelumnya, wilayah hutan serupa sudah pernah dilalap si jago merah tiga pekan lalu.
Pihak berwenang hingga kini belum dapat memastikan pemicu utama kemunculan titik api tersebut. Penyelidikan mendalam masih harus dilakukan guna mengungkap misteri di balik insiden berulang ini.
Langkah preventif segera digalakkan untuk meredam potensi bencana susulan di masa mendatang. Perhutani berencana menggandeng berbagai unsur terkait guna memperketat sistem pengamanan kawasan.
Masyarakat sekitar diimbau agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap ancaman karhutla. Peran aktif warga melaporkan potensi titik api sangat krusial demi keselamatan kelestarian alam.
Dampak Bagi Warga
Sementara itu, kerugian besar dan paling memilukan harus ditanggung oleh seorang warga Dukuh Karang Sengon. Warga bernama Warno tersebut selama ini menyambung hidup dari hasil menyadap getah pinus.
Seluruh getah pinus miliknya yang siap panen kini telah musnah dilalap api. Warno tak kuasa menahan air matanya ketika melihat sumber penghidupannya hancur seketika.
Ia mengaku sangat bingung memikirkan cara untuk menafkahi keluarganya ke depan. Warno berharap pihak Perhutani bisa memberikan perhatian khusus bagi para korban terdampak.***
Tim Redaksi


