Portal Pantura, Brebes – Bagi umat Islam, sepuluh hari terakhir Ramadan adalah fase paling istimewa. Pada periode inilah umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan ibadah untuk meraih satu malam yang sangat dimuliakan, yakni Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar dikenal sebagai malam penuh kemuliaan karena menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Keistimewaan malam ini bahkan disebutkan memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada seribu bulan atau sekitar 83 tahun.
Keagungan malam tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Qadr ayat 1–5. Dalam ayat itu disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Pada malam yang penuh berkah itu, para malaikat termasuk Malaikat Jibril turun ke bumi dengan izin Allah untuk mengatur berbagai urusan. Malam itu juga dipenuhi kedamaian hingga terbit fajar.
Meski memiliki keutamaan luar biasa, waktu pasti terjadinya malam Lailatul Qadar tidak pernah disebutkan secara jelas. Rasulullah SAW hanya memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis dari Aisyah r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” Hadis ini tercatat dalam riwayat sahih Bukhari dan Muslim.
Berdasarkan hadis tersebut, para ulama memperkirakan malam Lailatul Qadar berpotensi terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan.
Merujuk pada hasil sidang isbat Kementerian Agama yang menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026, maka perkiraan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan adalah sebagai berikut:
- Malam ke-21: Selasa malam, 10 Maret 2026
- Malam ke-23: Kamis malam, 12 Maret 2026
- Malam ke-25: Sabtu malam, 14 Maret 2026
- Malam ke-27: Senin malam, 16 Maret 2026
- Malam ke-29: Rabu malam, 18 Maret 2026
Pada malam-malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Banyak umat Muslim juga melakukan iktikaf di masjid sebagai bentuk kesungguhan dalam mencari keberkahan Lailatul Qadar.
Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar
Selain waktu yang diperkirakan berada di malam ganjil, beberapa hadis dan pendapat ulama juga menjelaskan tanda-tanda yang sering dikaitkan dengan datangnya malam Lailatul Qadar.
Salah satu tanda yang disebutkan dalam hadis riwayat Muslim adalah kondisi matahari pada pagi harinya. Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pada pagi setelah Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan, seolah tampak redup seperti sebuah bejana.
Selain itu, sejumlah ulama juga menjelaskan beberapa fenomena alam yang diyakini berkaitan dengan malam tersebut. Mengutip penjelasan dari laman Kementerian Agama, beberapa tanda yang sering disebut antara lain:
- Suara gonggongan anjing dan ringkikan keledai terdengar lebih jarang dari biasanya.
- Suasana malam terasa tenang, cerah, dan penuh cahaya.
- Ada yang merasakan suasana malam lebih damai dan menenangkan.
- Sebagian orang mengaku mendengar makhluk bertasbih atau berzikir kepada Allah.
- Air laut yang biasanya asin disebut terasa lebih tawar.
- Pada pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya lembut dan tidak menyilaukan.
Meski demikian, para ulama menekankan bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu bisa dirasakan oleh semua orang. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan tidak hanya menunggu tanda tertentu, tetapi memaksimalkan ibadah sepanjang sepuluh hari terakhir Ramadan.
Dengan memperbanyak amal ibadah di malam-malam tersebut, peluang meraih keberkahan Lailatul Qadar akan semakin besar. Sebab, siapa pun yang mendapatkan malam itu diyakini akan memperoleh pahala yang nilainya melampaui ibadah selama seribu bulan.***

