Portal Pantura – Musibah sering dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Padahal, ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mengajarkan perspektif berbeda dalam menyikapinya.
Makna Musibah dalam Islam
Kata “musibah” berasal dari bahasa Arab asaba yusibu yang berarti menimpakan atau mengenakan. Dalam Al-Qur’an, kata ini muncul lebih dari 10 kali.
“Maa asoba min musibatin illa bi idnillah” (QS. At-Taghabun: 11). Ayat ini menegaskan: tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.
Musibah tidak hanya bencana besar. Bahkan duri yang menusuk kaki dianggap musibah jika kita memandangnya negatif.
Persepsi Menentukan Makna Musibah
Sakit dianggap buruk bagi pasien, tetapi baik bagi dokter yang mendapat penghidupan. Baik dan buruk ternyata soal persepsi.
Dalam hadis qudsi disebutkan: “Ana inda zhanni abdi” (Aku sesuai prasangka hamba-Ku). Allah hadir sesuai cara kita memandang-Nya.
Contoh sederhana: cubitan dari orang asing terasa menyakitkan. Tapi cubitan dari orang terkasih? Kita justru membalasnya dengan senyuman.
Kisah Sahabat Menghadapi Musibah
Ubay bin Ka’ab dan 40 Ekor Domba
Ubay bin Ka’ab dan beberapa sahabat kehabisan bekal dalam perjalanan. Mereka meminta bantuan di sebuah desa, tetapi ditolak.
Ubay tidak mengeluh. Mereka melanjutkan perjalanan. Belum jauh, seseorang mengejar mereka. Kepala suku sakit dan butuh pengobatan.
Ubay meruqyah dengan membaca Al-Fatihah tiga kali. Kepala suku sembuh total. Mereka diberi 40 ekor domba sebagai upah.

