Jalan dalam pasar tak layak lagi dilalui. Pedagang dan pembeli harus ekstra hati-hati saat berjalan. Risiko terpeleset atau tersandung sangat tinggi.
“Jalan dalam pasar rusak parah. Ubin pecah dan berlubang di sana-sini,” jelas Nurofik.
Genangan air yang tak kunjung surut membuat lantai semakin rusak. Suasana pasar pun terkesan kumuh dan tidak nyaman.
Pedagang Mulai Frustasi dan Berniat Pindah
Kondisi pasar yang memprihatinkan membuat pedagang frustasi. Banyak yang mengeluh dan berencana pindah ke tempat lain.
Salah satu penjual bakso yang enggan disebutkan namanya mengaku kesal. “Kalau begini terus, banyak pedagang mau pindah. Pasar ini benar-benar seperti sungai saat hujan,” ujarnya.
Pedagang pakaian dan makanan paling terdampak. Barang dagangan mereka mudah rusak jika terkena air.
Pedagang kelontong juga merasakan dampak serupa. Omzet menurun drastis karena pembeli malas datang.
Ancaman Matinya Pasar Tradisional
Nurofik memperingatkan, jika kondisi dibiarkan, Pasar Induk Bumiayu bisa mati perlahan. Pedagang akan terus berpindah ke pasar lain atau beralih ke platform digital.
“Jika tidak segera diperbaiki, pasar bisa mati perlahan-lahan,” tegas Nurofik.
Pasar tradisional memang tengah menghadapi tantangan berat. Selain bersaing dengan e-commerce, kondisi fisik pasar juga harus diperhatikan.
Tim Redaksi
