Krib tersebut berfungsi memecah serta mengalihkan hantaman material batu besar agar tidak merusak dinding bronjong utama.
Strategi rekayasa teknis juga dilakukan dengan meluruskan belokan alur sungai yang sebelumnya memicu tekanan air berlebih.
“Penanganan juga dilakukan dengan meluruskan alur sungai yang sebelumnya berbelok. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi hantaman arus ke sisi kanan dan kiri sungai, yang berpotensi memperparah penggerusan tebing,” tuturnya.
Saat ini pengerjaan fisik utama telah dinyatakan selesai dengan progres keseluruhan mencapai angka 97 persen.
Tim di lapangan hanya menyisakan penataan akhir alur sungai serta penutupan bagian atas struktur bronjong.
Percepatan penyelesaian target dilakukan mengingat ancaman kenaikan debit air yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat cuaca buruk.
“Kalau sudah musim hujan, pekerjaan di sungai seperti ini akan lebih sulit. Makanya, kemarin kami terus mendorong kontraktor, supaya pekerjaan bisa segera diselesaikan,” ungkapnya.
Respon dan Harapan Masyarakat Lokal
Kehadiran struktur pengaman tebing sungai ini memberikan rasa lega yang besar bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya.
Salah seorang warga Desa Tanjong, Umayah, mengaku tenang melihat proyek benteng penahan longsor tersebut selesai dikerjakan.
“Alhamdulillah, senang banget. Rumah saya dekat sungai, jadi takut kalau terjadi longsor,” kata Umayah.

