Ia juga menyoroti pentingnya menjadikan warga pesisir bukan hanya sekadar objek kebijakan, tetapi subjek yang terlibat aktif dalam perencanaan dan solusi.
Dari sisi pendekatan ilmiah, PKPP akan menggabungkan riset terapan, praktik kebijakan, dan pengalaman masyarakat dalam satu kerangka kerja.
Direktur PKPP, Marco Kusumawijaya, tegas menyebut pendekatan ini “ko-produksi pengetahuan” di mana solusi tidak lahir dari satu pihak saja, tetapi dari kolaborasi banyak aktor.
Lebih jauh, pusat kajian ini menempatkan pesisir sebagai ruang strategis kehidupan, bukan hanya garis batas geografis.
Wilayah ini dianggap sebagai simpul penting yang menghubungkan daratan, laut, ekonomi, dan kehidupan sosial dalam satu sistem yang saling terkait.
Di tengah ancaman krisis iklim semakin nyata, PKPP hadir dengan ambisi yang cukup besar: menjadikan kota pesisir lebih berketahanan, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Bukan sekadar wacana akademik, tapi upaya untuk menjawab pertanyaan yang semakin mendesak bagaimana kota-kota pesisir bisa bertahan, beradaptasi, dan tetap hidup di tengah perubahan yang tidak bisa dihindari.***

