Portal Pantura - Kota Tegal kini tak lagi sekadar dikenal sebagai kota pesisir dengan aktivitas pelabuhan dan ekonomi lokal. Kota ini mulai mengambil peran baru: laboratorium hidup untuk masa depan kota-kota pesisir di Indonesia. Lewat peluncuran Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP), Tegal resmi didorong menjadi pusat studi yang membahas salah satu isu paling serius abad ini: perubahan iklim di wilayah pesisir. Inisiatif ini lahir dari kolaborasi antara Universitas Harkat Negeri dan Rujak Center for Urban Studies, dengan satu tujuan besar. Yaitu menjadikan riset tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar menyentuh kebijakan dan kehidupan masyarakat. Di balik gagasan ini, ada realitas yang tidak bisa diabaikan. Indonesia memiliki ribuan desa pesisir, ratusan kabupaten dan kota yang berbatasan langsung dengan laut, dan lebih dari seratus juta penduduk yang hidup di wilayah rentan dampak perubahan iklim. Mulai dari banjir rob, kenaikan permukaan air laut, hingga perubahan ekosistem dan pola ekonomi, semuanya sudah terasa—dan terus meningkat. Karena itu, Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) tidak hanya ingin menjadi pusat kajian, tetapi juga pusat aksi. Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menegaskan Kota Tegal dipilih karena posisinya sebagai kota sekunder sekaligus kota pesisir yang menghadapi tantangan nyata namun juga punya potensi besar untuk menjadi model pembelajaran. Ia menekankan bahwa universitas tidak boleh berhenti sebagai ruang teori, tetapi harus menjadi institusi yang berdampak langsung pada masyarakat. Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Tegal, Agus Dwi Sulistyantono, menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, kebijakan publik akan lebih kuat jika disokong oleh ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat. Ia juga menyoroti pentingnya menjadikan warga pesisir bukan hanya sekadar objek kebijakan, tetapi subjek yang terlibat aktif dalam perencanaan dan solusi. Dari sisi pendekatan ilmiah, PKPP akan menggabungkan riset terapan, praktik kebijakan, dan pengalaman masyarakat dalam satu kerangka kerja. Direktur PKPP, Marco Kusumawijaya, tegas menyebut pendekatan ini “ko-produksi pengetahuan” di mana solusi tidak lahir dari satu pihak saja, tetapi dari kolaborasi banyak aktor. Lebih jauh, pusat kajian ini menempatkan pesisir sebagai ruang strategis kehidupan, bukan hanya garis batas geografis. Wilayah ini dianggap sebagai simpul penting yang menghubungkan daratan, laut, ekonomi, dan kehidupan sosial dalam satu sistem yang saling terkait. Di tengah ancaman krisis iklim semakin nyata, PKPP hadir dengan ambisi yang cukup besar: menjadikan kota pesisir lebih berketahanan, berkeadilan, dan berkelanjutan. Bukan sekadar wacana akademik, tapi upaya untuk menjawab pertanyaan yang semakin mendesak bagaimana kota-kota pesisir bisa bertahan, beradaptasi, dan tetap hidup di tengah perubahan yang tidak bisa dihindari.***