Portal Pantura – Di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal, nyaring suara jangkrik menggantikan gemericik air irigasi.
Dan di lahan yang seharusnya hijau oleh padi setinggi lutut, kini perlahan tampak retakan tanah dan ilalang yang mulai tumbuh liar.
Petani-petani desa itu berdiri mematung di tengah sawahnya sendiri memandang kosong pada ladang yang tak lagi ada harapan dan menjanjikan kehidupan.
“Sejak air bendungan berhenti, kami hanya bisa pasrah. Kami tidak tahu proyek itu akan mulai karena minim sosialisasi,” kata seorang petani yang telah mengolah tanah di sana sejak zaman orde baru.
Masalah ini bermula dari adanya Proyek Revitalisasi Bendungan Danawarih di wilayah Kecamatan Balapulang yang digarap oleh PT Minarta, senilai Rp 65 miliar dengan dana APBN.
Proyek ini sejatinya untuk kebaikan dan meningkatkan kualitas bendungan dan memperlancar aliran air. Tapi bagi para petani yang tak pernah diberi tahu, yang mereka terima justru kekeringan dan ancaman gagal panen.
Dari laporan warga dan dialog dengan Bupati pada Jumat 27 Juli 2025 diketahui bahwa 240 hektare sawah kini kondisi kritis dan saluran irigasi tersumbat dan sumur warga mulai mengering, serta tanaman yang tumbuh menunggu layu satu per satu.
Mendengar keluhan petani menyebar lewat media sosial serta pula laporan resmi, Bupati Tegal Ischak Maulana, bergerak cepat menemui pelaksana proyek Bendungan Danawarih senilai 65 miliar yaitu PT Minarta sekaligus untul berdialog dengan petani.
Dalam video yang ia unggah di akun media sosial Instagram pribadi, Bupati Tegal Ischak nampak terlihat kecewa karena PT Minarta lamban respon dan 240 Hektare lahan milik Petani terancam gagal panen.
“Ini proyek APBN. Jangan main-main dan Jangan sampai Presiden tahu dan kecewa. Apalagi sekarang ini kita sedang fokus pada ketahanan pangan nasional!” serunya lantang.” tegas Bupati Tegal.
Tim Redaksi
