“Gunung Slamet bisa menjadi role model destinasi pendakian tanpa sampah di Indonesia. Zero waste adventure is possible,” katanya tegas dari atas panggung kecil yang dikelilingi nyala lampu tenda dan semangat muda yang membara.
Rencana menjadikan Slamet sebagai taman nasional tak sekadar soal status hukum. Ini soal menyelamatkan sisa-sisa hutan lindung yang kini terancam oleh konversi ilegal menjadi kebun kentang.
Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, mengungkapkan para petani yang dulu membuka lahan secara ilegal kini sudah bersedia menghentikan aktivitas mereka.
“Kita akan pantau dan pastikan kesepakatan ini berjalan,” ujarnya dilansir dari siaran resmi humas Pemkab Tegal
Transformasi Slamet dari gunung yang padat pendaki menjadi zona konservasi yang bersih bukan pekerjaan semalam. Tapi inisiatif seperti ZWAC memberi harapan.
Di sela-sela pelatihan, peserta belajar manajemen sampah, etika pendakian, dan pemilahan sampah di alam terbuka.
Bahkan, para pendaki nasional dijadikan influencer, memanfaatkan jejaring sosial untuk menggaungkan gaya hidup minim sampah.
Malam itu, di tengah semilir angin lereng Slamet, Ulfa menuliskan sesuatu di buku catatannya “Gunung bukan tempat buang sampah. Gunung adalah guru.”
Ia baru sadar, bahwa mencintai alam bukan hanya soal mendaki dan menaklukkan puncak, tapi menjaga jejak yang ditinggalkan tetap bersih.
Dari lereng Guci, sebuah revolusi kecil sedang dimulai. Mungkin tidak langsung mengubah dunia.

