Bahwa dalam kirab pusaka,Tombak Kyai Pleret dan pusaka pengiring yang patut dimuliakan.
Ini bukan bentuk konservatisme yang kaku. Melainkan kesetiaan terhadap jejak.
Seperti seorang pelukis yang mengerti warna-warna asli lukisan leluhurnya, keluarga Kalisoka menolak menambah ornamen baru yang tak memiliki akar.
Setiap kali tombak Kyai Pleret diarak akan disapa oleh sejarahnya sendiri. Ia seperti cermin yang tak hanya dapat memantulkan wajah, tapi juga nilai.
Ia mengajarkan akan kekuasaan bukan semata jabatan, tapi amanat dan tanah subur bukan hasil kebetulan, melainkan hasil dari penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Tombak ini bukan sekadar benda tetapi mengandung semangat gotong royong, keberanian para pendiri Tegal, dan doa-doa yang terus digumamkan diam-diam dalam setiap langkah kirabnya.
Dan saat ribuan pasang mata melihat pusaka itu melintasi jalanan Slawi, mungkin banyak yang tak tahu nama-nama para penjaga pusaka itu.
Tapi justru di situlah letak keabadian sebuah tradisi ketika pusaka itu tidak membutuhkan pengakuan untuk tetap hidup.***

