Dan hasilnya mengarah pada satu kesimpulan Zulfikar meninggal karena riwayat penyakit jantung.
“Dokter di RS Amanda menyampaikan kepada kami bahwa almarhum memang punya riwayat jantung,” ungkap Irgi Hambali, adik kandung korban, dengan mata sembab.
Irgi bekerja di SPBU yang sama, dan tahu betul bagaimana rutinitas serta kondisi kakaknya.
Namun yang menyakitkan bagi keluarga adalah munculnya pemberitaan yang dianggap menyudutkan pihak SPBU dan mempolitisasi kematian Zulfikar.
“Kami tidak pernah memberikan kuasa kepada siapa pun untuk menuntut pihak manapun. Kami sudah ikhlas,” tegas Irgi.
Antara Fakta dan Opini Liar
Menyikapi gelombang pemberitaan yang berkembang, Ketua Umum DPP Forum Wartawan Jakarta (FWJ) Indonesia, Mustofa Hadi Karya alias Opan, angkat bicara.
Melalui klarifikasinya, ia meminta seluruh pihak untuk menghentikan spekulasi yang tidak berdasar.
“Isu ini tidak seharusnya dijadikan ajang saling tuding. Kita semua perlu menghormati duka keluarga korban, bukan menambah luka dengan opini liar,” ujar Opan.
Opan menegaskan bahwa FWJ Indonesia telah bertemu langsung dengan pihak keluarga dan pengelola SPBU. Dari hasil investigasi Pertamina dan keterangan medis RS Amanda.

