Sedangkan Agus Sukoco, Kepala Dinas KPTan, mengakui bahwa perjuangan mendapatkan bantuan bibit dari pusat tidak mudah.
Awalnya, Tegal mengusulkan kebutuhan untuk 20.000 hektare. Tapi karena kuota terbatas yakni hanya 11.402 hektare dan dikabulkan itu pun, kata Agus, lantaran lobi langsung Wabup ke Kementerian Pertanian.
Di antara penerima bantuan, Faizun anggota Kelompok Tani Rejeki Sumbur Desa Setu tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.
Traktor roda dua yang diterimanya hari itu akan langsung digunakan untuk olah lahan menjelang musim tanam.
“Kalau biasanya butuh waktu tiga hari untuk mengolah satu hektare, pakai traktor ini bisa sehari selesai. Hemat tenaga dan waktu,” katanya antusias.
Bantuan yang diberikan, lanjut Kholid, bukan untuk dimonopoli saja dan Ia pun menekankan pentingnya pengelolaan bersama secara gotong royong serta juga transparan.
“Kalau ada yang rusak, ya diperbaiki bersama. Jangan hanya mengandalkan bantuan, tapi rawat dan manfaatkan dengan hati,” pesannya.
Karena di balik setiap butir padi yang tumbuh, ada kerja keras dan kerjasama yang tak terlihat.
Ada ketahanan pangan yang dibangun dari desa. Dan ada masa depan yang bertumpu pada tangan-tangan para petani.***
Tim Redaksi
