IKLAN
Ragam Informasi

Nada dari Bojong, Serka Hartoyo Babinsa Kodim 0712 Tegal Pencipta Lagu Untuk Negeri

Avatar photo
×

Nada dari Bojong, Serka Hartoyo Babinsa Kodim 0712 Tegal Pencipta Lagu Untuk Negeri

Sebarkan artikel ini

Portal Pantura- Di suatu pagi di Bojong Kabupaten Tegal derap langkah seorang prajurit terdengar menyusuri jalan desa. Tubuh gempal sigap menyapa dengan senyum tulus dan telinga terbuka untuk setiap cerita di balik pagar rumah yang sederhana.

Dialah Serka Hartoyo, Babinsa Koramil 08 Bojong Kodim 0712/Tegal. Setiap hari, ia menjalankan tugas sebagai jembatan antara TNI dan rakyat.

Namun siapa sangka, di balik seragam loreng dan wajah tegas itu, tersembunyi sisi lain yang tak banyak diketahui oleh orang.

iklan

Serka Hartoyo pencipta lagu yang secara diam-diam telah menulis lebih dari dua puluh karya musik, penuh dengan pesan kejujuran, dan perasaan.

“Saya menulis lagu bukan karena ingin terkenal, tapi Saya menulis karena ingin berbicara,” ujarnya pelan, dan matanya menatap jauh seolah mengingat bait-bait yang pernah ia tulis.

Tanpa pendidikan musik formal hanya bersenjata gitar tua dan pena, Hartoyo melahirkan lagu-lagu sederhana namun kuat.

Inspirasi ini datang dari pengalaman lapangan, dari keresahan dan harapan warga yang ia jumpai setiap hari.

Beberapa lagunya bahkan jadi semacam dokumentasi sosial Ponggol Jati, Gunung Gundul Hutan Ku, hingga Selamat Jalan Brigadir Joshua.

Lagu-lagu itu ia unggah ke kanal YouTube pribadi @BambangHartoyo dan akun TikTok @Hartoyo, perlahan mengalir ke ruang-ruang hati pendengarnya.

Salah satu karya yang paling lantang adalah lagu tentang kerusakan hutan. Lirik lugas dan nadanya menyentuh, menjadi bentuk kritik sekaligus doa agar alam tak terus-menerus terluka.

“Kadang, saya nulis pas malam-malam. Sambil duduk, pegang gitar. Lirik itu datang sendiri, seperti dititipkan. Jadi semua mengalir apa adanya,” saat ditemui di sela waktu istirahat usai susuri desa.

Menariknya, karya-karyanya inipun kerap digunakan untuk promosi usaha kecil di kampung dari warung makan hingga layanan jasa. Ia tidak selalu dibayar, tapi tak pernah mengeluh.

“Saya senang. Lagu saya dipakai orang. Itu tandanya ada yang mendengar,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Hartoyo, musik bukan jalan menuju ketenaran, melainkan napas kedua. Di tengah rutinitas militer penuh disiplin dan musik menjadi caranya mencintai negeri ini bukan dengan senjata, melainkan dengan nada.

Lagu-lagunya mulai dikenal di lingkungan rekan-rekannya. Beberapa dinyanyikan dalam acara kebersamaan, menyatukan suasana dan menggugah hati.

Meski belum memiliki studio rekaman atau akses ke industri musik, Hartoyo tetap bermimpi.

“Kalau suatu saat ada kesempatan, saya ingin semua lagu ini direkam. Siapa tahu bisa menginspirasi orang lain.”

Kisah Serka Hartoyo adalah pengingat bahwa cinta tanah air tak melulu soal komando dan strategi. Kadang hadir dalam bentuk paling sederhana lagu yang lahir dari nurani dan dikirimkan kepada bangsa sebagai pesan cinta, peringatan, dan harapan.

Di lorong-lorong desa Bojong, suara Serka Hartoyo mungkin tak selalu terdengar lantang. Tapi lewat lirik-lirik yang jujur, ia berbicara tentang alam yang mesti dijaga, rakyat yang harus didengar, dan semangat yang tak boleh padam.***

 

Tim Redaksi

Cahyo
Reporter Cahyo
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Cahyo

Terbaru dari Cahyo

iklan