IKLAN
Ragam Informasi

Rambang, Membuka Pusaka, Menyulam Peradaban dari Desa Danaraja Tegal

Avatar photo
×

Rambang, Membuka Pusaka, Menyulam Peradaban dari Desa Danaraja Tegal

Sebarkan artikel ini

Portal Pantura – Di pagi Iduladha yang khidmat, tepat pada 10 Zulhijah 1446 Hijriah atau 6 Juni 2025, suasana di Desa Danaraja, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, terasa berbeda.

Aroma tanah basah dan gema suara takbir bersahutan menyambut tradisi sakral yang hanya terjadi sekali dalam setahun yaitu membuka Kitab Rambang.

IKLAN

Bagi masyarakat Danaraja, hari itu bukan sekadar momen ritual atau seremonial. Ini adalah perjalanan membuka kembali akar peradaban, menyambung warisan leluhur tertulis dalam aksara yang nyaris punah.

Di sebuah ruangan yang disakralkan, kitab kuno itu dibuka dan bukan dilihat fisiknya semata tapi melainkan diserap kandungan nilainya ajaran tauhid, syariat, adab, serta petuah sosial yang seakan merentang lintas zaman.

Kitab Rambang bukan kitab sembarangan. Ia adalah manuskrip lokal yang menyimpan ajaran Islam dan kebijaksanaan budaya.

Dalam lembar-lembar kertas tuanya justru termuat konsep ketuhanan, hukum Islam, etika sosial, bahkan nilai bermasyarakat yang kini terasa asing di zaman serba instan.

Menurut Ki Haryo Susilo Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal, kitab ini bukan hanya bernilai spiritual, tapi juga berpotensi menjadi rujukan pendidikan karakter.

Langkah awal sudah diambil kitab telah didigitalisasi, dan proses kajian oleh para filolog dan ahli kebudayaan kini tengah berjalan.

Harapannya, kelak Kitab Rambang bisa menjadi muatan lokal dalam kurikulum pendidikan anak-anak Tegal.

Sejarah desa ini tak bisa dilepaskan dari figur besar seperti Syekh Maulana Magribi dan Mbah Jambu Karang. Dua tokoh yang dipercaya sebagai penjaga dan penyebar ajaran Islam di masa lalu.

Seorang tokoh masyarakat berkata, “Ini adalah berkah bagi masyarakat Danaraja. Bukan hanya secara spiritual, tapi juga ekonomi.

Banyak peneliti, pelajar, bahkan wisatawan datang untuk melihat langsung jejak dari peradaban ini.”

Namun yang lebih penting, nilai-nilai yang hidup dalam naskah itu harus diwariskan ke generasi muda. Bukan sekadar menjadi tontonan, tapi tuntunan. Karena, seperti kata sesepuh desa,

“Jangan hanya datang ke tradisinya, tapi tinggalkan jejak dalam pemahaman akan isinya.” terangnya.

Acara pembukaan kitab Rambang diwarnai dengan canda khas Tegal, guyonan para tokoh budaya dan sesepuh desa menjadi jembatan yang membuat ilmu dan hikmah terasa akrab. Sebuah petuah humor pun mengalir.

“Angger durung bisa salat neng Ka’bah, turu bareng bojone karo niat ibadah wae wis koyo salat neng Ka’bah.”

Guyon semacam ini bukan sekadar kelakar. Ia adalah bentuk kearifan lokal, cara arif dan tradisional menyampaikan pesan pesan religius dan etis, tanpa kehilangan kehangatan dan kemanusiaan.

Seorang budayawan muda dalam acara itu mengingatkan: “Jangan cuma hadir dan berfoto. Jangan jadi batok kosong. Datang, pahami, bawa pulang nilai-nilainya.”

Desa Danaraja bukan hanya saksi sejarah. Ia adalah bagian dari peradaban yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup dan tumbuh.

Di tengah globalisasi dan modernitas yang sering meluruhkan akar budaya, tradisi membuka Kitab Rambang ini tindakan perlawanan, menjaga, membaca ulang, dan menanamkan kembali nilai-nilai luhur ke dalam diri dan generasi mendatang.

Tradisi ini bukan akhir, tapi awal dan Desa Danaraja mengirimkan pesan kuat: Budaya bukan untuk dikenang, tapi untuk dijalani. Dan kitab Rambang adalah cermin yang memantulkan wajah masa lalu agar kita lebih bijak melangkah ke masa depan.

“Membaca Kitab Rambang, membaca diri kita sendiri sebuah refleksi tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita harus menuju.” pungkas Kepala Desa Danaraja Riaji.***

 

Tim Redaksi

Cahyo
Reporter Cahyo
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
IKLAN
Cahyo

Terbaru dari Cahyo

iklan