Ukuran teks
Di tengah dunia yang semakin panas dan bising, di lereng sunyi Gunung Slamet, anak-anak muda ini memilih untuk menyapa masa depan lewat pohon.
Dengan tangan yang kotor oleh tanah, mereka membuktikan bahwa harapan tak harus besar dan berkilau. Kadang, cukup satu bibit, satu lubang tanam, dan niat yang tak goyah.
Dan di sanalah, di jantung hutan yang basah, lereng Gunung Slamet kembali bernapas.
Bersama pemuda-pemudi yang penuh menginsipirasi menanam bukan hanya pohon, tapi juga masa depan.***

