Jika biaya RAM naik Rp1 juta, namun harga ponsel naik Rp3 juta, ini merupakan markup berlebihan. Produsen bisa berdalih menyalahkan industri AI, padahal mereka sendiri gencar mengiklankan fitur AI di produk mereka.
Tidak Ada yang Kebal
Semua merek ponsel membutuhkan RAM. Tidak ada produsen yang bisa menyetok RAM dalam jumlah besar dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan jika ada, stok tersebut akan cepat habis.
Merek-merek yang mampu mempertahankan harga atau meminimalkan kenaikan di tahun 2026 patut diapresiasi. Ini bukan pencapaian mudah mengingat kondisi pasar komponen saat ini.
Harapan ke Depan
Ada dua skenario yang bisa meredakan situasi ini. Pertama, produsen RAM meningkatkan kapasitas produksi untuk pasar konsumen. Kedua, industri data center mencapai titik jenuh dan permintaan mulai stabil.
Perlu dicatat, teknologi AI sendiri memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. AI adalah alat yang jika digunakan dengan bijak, bisa sangat membantu kehidupan sehari-hari.
Namun dampaknya terhadap pasar konsumen elektronik perlu diantisipasi. Konsumen sebaiknya mempertimbangkan membeli ponsel baru sebelum kenaikan harga lebih parah, atau menunggu hingga situasi pasar membaik.
Tahun 2026 akan menjadi tahun yang menantang bagi industri ponsel pintar, terutama di segmen entry level yang selama ini menjadi tulang punggung pasar Indonesia.***
Tim Redaksi
