Portal Pantura – Resesi ekonomi bukan hanya ancaman bagi negara atau konglomerat. Krisis ini bisa menghantam siapa saja, dari pekerja kantoran hingga pengusaha besar.
Berdasarkan data historis krisis 1998, 2008, dan pandemi COVID-19, banyak investor kehilangan aset karena salah menempatkan dana. Bukan karena kurang uang, tetapi karena memilih investasi yang keliru.
Ekonom memperkirakan resesi global berikutnya dapat terjadi dalam 3-5 tahun ke depan. Utang Amerika Serikat terus membengkak, sementara ketegangan geopolitik dunia meningkat.
1. Saham Spekulatif Tanpa Fundamental Kuat
Saham gorengan atau saham spekulatif menjadi korban pertama saat resesi melanda.
Perusahaan yang merugi bertahun-tahun namun valuasinya tinggi akan langsung terpukul. Investor akan beralih ke aset aman, meninggalkan saham dengan fundamental lemah.
Contoh nyata: saat bubble dot-com pecah, nilai pasar hilang lebih dari 70%. Startup teknologi pada 2021-2022 juga anjlok drastis, bahkan ada yang menjadi “perusahaan zombie.”
Strategi aman: Investasi di perusahaan dengan profit konsisten, cash flow positif, dan mampu membayar dividen stabil.
Sektor defensif seperti consumer staples, utilitas, dan energi dasar cenderung bertahan saat resesi. Masyarakat tetap butuh makanan, minuman, dan logistik meski ekonomi lesu.
2. Properti dengan Utang Besar
Banyak investor membeli properti menggunakan leverage atau utang bank. Ini menciptakan bom waktu saat resesi datang.
Ketika krisis terjadi, permintaan turun, harga sewa merosot, tapi bunga bank justru naik. Cicilan tetap berjalan meski properti sulit disewakan.

