TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ekonomi

5 Aset Berisiko Tinggi yang Harus Dihindari Saat Resesi

×

5 Aset Berisiko Tinggi yang Harus Dihindari Saat Resesi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi uang. (Mufid Majnun)
Ilustrasi uang. (Mufid Majnun)
IKLAN
Ukuran teks

Ketika resesi, pembeli barang mewah menghilang. Pemilik terpaksa menjual dengan diskon brutal, bahkan 70%.

Seorang kolektor pernah membeli lukisan Rp12 miliar. Saat butuh uang karena resesi, lukisan itu hanya laku Rp300-400 juta. Bahkan sulit menemukan pembeli.

Motor atau mobil mewah mengalami nasib serupa. Pasar kecil, pembeli terbatas, dan harga jual anjlok drastis.

iklan

Alternatif lebih baik:

  • Prioritaskan aset mudah dijual seperti emas
  • Pilih barang dengan harga transparan dan pasar luas
  • Hindari barang koleksi dengan pasar terbatas

5. Bisnis dengan Cadangan Cash Tipis

Perusahaan dengan margin tipis, utang besar, dan tanpa dana cadangan sangat rentan bangkrut saat resesi.

Banyak bisnis terlihat ramai dari luar dengan omzet besar. Tapi di balik layar, margin keuntungan setipis kertas dan biaya operasional tinggi.

Saat resesi, permintaan turun tapi pasokan masih ada. Cash flow semakin seret. Perusahaan terpaksa PHK massal hingga akhirnya tutup.

Contoh: bisnis seafood di Maluku dengan omzet besar namun margin sangat tipis. Biaya solar, listrik, dan pencurian membuat operasional sulit. Akhirnya perusahaan bubar bukan karena produk jelek, tapi kehabisan nafas finansial.

Kriteria investasi aman:

  • Pilih perusahaan dengan cadangan cash kuat (contoh: Berkshire Hathaway, IPC)
  • Cari bisnis dengan cash flow sehat dan margin keuntungan memadai
  • Investasi pada perusahaan yang efisien dan bisa memangkas biaya tidak penting

Strategi Menghadapi Resesi

Resesi bukan akhir, melainkan kesempatan bagi yang siap.

Setyo

Terbaru dari Setyo