Krisis subprime mortgage Amerika 2008 membuktikan hal ini. Ribuan orang kehilangan aset dan bangkrut karena tidak mampu membayar cicilan.
Di Indonesia, nilai apartemen bisa turun 50% atau lebih saat resesi. Properti yang dibeli Rp2 miliar hanya laku Rp1 miliar, bahkan sulit menemukan pembeli.
Langkah antisipasi:
- Lunasi cicilan dengan bunga tinggi dalam 2 tahun ke depan
- Hindari over-leveraging atau utang berlebihan
- Fokus pada properti yang menghasilkan cash flow positif seperti hotel, kosan, atau properti komersial dengan penyewa tetap
3. Uang Tunai Tanpa Strategi
Menyimpan uang di bank tanpa strategi investasi justru berbahaya.
Inflasi menggerogoti nilai uang secara perlahan. Jika inflasi 3% per tahun, daya beli uang Anda berkurang 3% setiap tahunnya.
Saat resesi, pemerintah sering mencetak uang untuk pelonggaran moneter. Hasilnya: inflasi meningkat, mata uang melemah.
Yang lebih mengejutkan, bunga deposito bisa lebih rendah dari inflasi. Jika inflasi 9% tapi bunga bank hanya 3%, Anda rugi 6% meski menabung.
Di Jepang pernah terjadi bunga bank minus 1% saat resesi. Menabung di bank malah mengurangi saldo.
Solusi bijak:
- Siapkan dana darurat untuk pengeluaran 12-24 bulan
- Investasikan sisa dana ke instrumen produktif seperti Surat Berharga Negara (SBN), sukuk, atau money market fund
- Simpan cash reserve untuk membeli aset murah saat krisis
4. Barang Mewah dengan Likuiditas Rendah
Jam tangan mahal, tas branded, mobil sport, lukisan, dan barang koleksi terlihat prestisius. Namun likuiditasnya sangat rendah saat krisis.

