Puasa dalam Islam adalah ibadah yang berfokus pada menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal pembatal lainnya dari fajar hingga terbenam matahari. Puasa bukanlah tentang kondisi kesucian jasmaniah saat niat dimulai, melainkan tentang konsistensi menjalankan pantangan tersebut.
Hadas besar—dalam hal ini kondisi junub—memiliki batasan-batasan spesifik. Kondisi ini memang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat, membaca Alquran, menyentuh mushaf Al-Qur’an, tinggal di masjid, atau melakukan thawaf di sekitar Kabah. Namun, kondisi ini sama sekali bukan syarat pembatal puasa.
Itulah mengapa para ulama menegaskan bahwa mandi wajib boleh dilakukan kapan saja, termasuk setelah fajar tiba, tanpa menggugurkan sahnya puasa.
Rekomendasi Ulama: Lebih Baik Sebelum Subuh
Meski demikian, para ulama tetap memberikan saran praktis yang bijaksana. Mereka menganjurkan agar mandi wajib diselesaikan sebelum waktu Subuh tiba. Namun, ini bukan karena alasan puasa akan menjadi tidak sah.
Alasan sebenarnya adalah untuk memastikan seseorang dapat menunaikan shalat Subuh tepat pada waktunya. Shalat Subuh adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda-tunda, dan seseorang tidak boleh melaksanakannya dalam keadaan berhadas besar tanpa bersuci terlebih dahulu.
Dengan demikian, saran ini lebih merupakan upaya untuk menjaga kelancaran ibadah secara keseluruhan daripada sebuah persyaratan yang ketat.
Langkah-Langkah Mandi Wajib yang Benar Secara Syariat
Agar mandi wajib yang dilakukan memenuhi ketentuan syariat dengan sempurna, berikut urutan prosedur yang perlu diperhatikan:
Pertama, niatkan dalam hati untuk melakukan mandi wajib guna menghilangkan hadas besar. Niat cukup ada dalam hati dan tidak perlu diucapkan dengan lantang.
Kedua, basuhkan kedua telapak tangan sebanyak tiga kali sebelum dimulai mandi agar tangan dalam keadaan bersih.
Ketiga, bersihkan area kemaluan dan sekitarnya menggunakan tangan kiri untuk menghilangkan najis yang kemungkinan masih menempel.

