PortalPantura- Di tengah hamparan sawah yang menghijau dan semilir angin dari kaki Gunung Slamet, Desa Rembul kembali menghidupkan denyut adat leluhur melalui Sedekah Bumi sebuah tradisi tahunan yang sarat makna, spiritualitas, dan simbol kebersamaan.
Di Desa Rembul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, denyut tradisi kembali hidup. Dalam suasana yang penuh khidmat dan semangat kebersamaan, masyarakat menggelar Sedekah atau Ruwat Bumi,
Yakni sebuah ritual tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen dan anugerah alam yang terus menghidupi mereka.
Pagi itu, di tengah hamparan sawah yang menghijau, ratusan warga beriringan dalam prosesi budaya. Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, mereka membawa gunungan hasil bumi tumpukan sayuran, buah-buahan, dan palawija yang dihias artistik.
Iringan gamelan dan tembang-tembang Jawa memperkuat nuansa sakral dihadiri langsung Ibnu Efendi Kepala Desa, anggota Dewan fraksi PDI P dan Haji Pandi serta Ketua Apdesi, Kadin Disporapar dan Forkopimcam Bojong.
Dan Prosesi ini bukan hanya seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada bumi dan leluhur diyakini telah menjaga keseimbangan alam.
Dalam kepercayaan lokal, pemotongan hewan kerbau bule sehari sebelum prosesi Ruwat Bumi dan merupakan suatu bentuk pengorbanan suci, melambangkan keikhlasan dan harapan akan kemakmuran yang terus mengalir.
Yang membuat acara ini semakin berkesan, hadirnya tokoh masyarakat Haji Pandi yang menyaksikan prosesi Ruwat Bumi dan Ia menekankan pentingnya pelestarian tradisi sebagai bagian dari identitas masyarakat Tegal.
“Tradisi ini bukan hanya bagian dari masa lalu, tapi juga investasi budaya untuk masa depan. Kita ingin generasi muda tetap mencintai akar mereka,” ujar Kepala Desa Rembul Ibnu Efendi.

