Portal Pantura, Brebes – Banjir bandang yang menerjang Desa Adisana dan Dukuhturi di Kecamatan Penggarutan, Kabupaten Brebes, bukan sekadar bencana alam biasa. Hasil kajian wilayah tangkapan air Kali Keruh mengungkap fakta mengejutkan: bencana ini dipicu kerusakan ekologis massif di kawasan hulu yang luasnya melampaui satu kota.
Pengamat kebijakan sumber daya alam, Hendy TR, melakukan penelusuran dari hilir Kali Keruh hingga ke hulu. Hasilnya menunjukkan, luas daerah tangkapan hujan atau catchment area mencapai 60,63 kilometer persegi atau 6.063 hektar.
“Angka ini 52,8 persen lebih besar dari luas Kota Tegal yang hanya 39,68 kilometer persegi,” ungkap Hendy.
Luasan yang terdelineasi tersebut mencakup seluruh percabangan anak sungai yang mengalirkan air ke Kali Keruh, menjadikannya sistem hidrologis raksasa yang menentukan nasib wilayah hilir.
Hutan Lindung Berubah Jadi Ladang Sayur
Temuan paling krusial dari kajian ini adalah alih fungsi lahan hutan secara besar-besaran di dalam wilayah tangkapan air. Kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air justru dikonversi menjadi lahan pertanian dan perkebunan sayuran.
Yang lebih memprihatinkan, konversi tidak hanya terjadi di Hutan Produksi Terbatas, tetapi merambah hingga kawasan Hutan Lindung di bawah pengelolaan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Pekalongan Barat.
Sedikitnya delapan desa teridentifikasi mengalami alih fungsi lahan dalam catchment area, di antaranya Igirl Klenceng, sebagian Cipetung, Wanareja, sebagian Sridadi, sebagian Dawuhan, sebagian kecil Plompong, sebagian Pandansari, dan sebagian kecil Cilibur.
Data lapangan membuktikan praktik ini bukan kejadian sporadis, melainkan sistematis dan meluas.
Hilangnya Fungsi Hutan sebagai Spons Raksasa

