Untuk tahun 2026, pemerintah menetapkan skala prioritas pengangkatan. Posisi teratas diberikan kepada peserta seleksi PPPK tahun 2024 dan 2025 yang berada di ambang batas kelulusan atau mengisi formasi paruh waktu sebagai alternatif.
Prioritas sektor juga diberikan pada tenaga pelayanan publik, khususnya tenaga kesehatan dan guru. Kedua profesi ini dinilai kritis dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat. Setelah itu, giliran tenaga teknis dan administrasi di berbagai instansi.
Beda Status, Beda Hak dan Kewajiban
Perbedaan paling mencolok antara PPPK paruh waktu dan penuh waktu terletak pada jam kerja dan kesejahteraan. PPPK penuh waktu wajib bekerja sesuai jam kantor standar, rata-rata 40 jam per minggu atau 8 jam per hari.
Dari sisi kesejahteraan, PPPK penuh waktu menerima gaji pokok dan tunjangan setara dengan PNS sesuai golongan masing-masing, termasuk tunjangan kinerja, tunjangan hari raya, dan jaminan pensiun. Sementara PPPK paruh waktu hanya mendapat honorarium proporsional sesuai jam kerja.
Momentum Pembuktian Kompetensi
KemenPAN-RB menargetkan penataan tenaga non-ASN rampung sepenuhnya pada akhir 2026. Bagi pegawai PPPK paruh waktu, periode ini menjadi momentum krusial untuk membuktikan kapasitas dan komitmen mereka.
“Ini kesempatan emas untuk mendapat kepastian status hukum dan kesejahteraan lebih baik ke depannya,” ujar sumber di KemenPAN-RB.
Para pegawai PPPK paruh waktu disarankan segera mengecek persyaratan di instansi masing-masing dan mempersiapkan dokumen pendukung. Koordinasi dengan bagian kepegawaian juga perlu dilakukan untuk memastikan usulan pengalihan status dapat diproses tepat waktu.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat memberikan kepastian karir bagi ribuan tenaga honorer sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui sistem kepegawaian yang lebih tertata.***
Tim Redaksi
