Beragam lomba tradisional yang lekat dengan budaya masyarakat digelar, mulai dari balap bakiak, makan kerupuk, estafet kelereng, estafet tepung, hingga berbagai permainan seru lainnya.
Tawa pecah ketika peserta bakiak kehilangan keseimbangan, atau saat wajah-wajah dipenuhi tepung.
Di momen itu, yang tampak bukan lagi sekumpulan individu dengan peran berbeda, melainkan satu keluarga besar Polres Tegal yang saling mendukung dan menguatkan.
Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan ini sekaligus menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang sejarah,
Tetapi juga tentang merawat persatuan, menumbuhkan kebersamaan, dan memperkuat rasa syukur.
Dari keceriaan sederhana diharapkan lahir semangat yang lebih besar untuk melayani masyarakat dengan tulus, serta menjaga soliditas di antara seluruh anggota Polres Tegal.**

