“Semua anak bangsa harus berkontribusi. Mulai dari diri sendiri dengan hal sederhana untuk menjadi warga yang taat hukum,” katanya.
Tantangan Eksternal: Bahaya Kecanduan Teknologi
Dari sisi eksternal, Shintya mengungkapkan liberalisme dan ketergantungan teknologi menjadi ancaman serius. Ia mengutip penelitian seorang doktor dari Universitas Indonesia.
Penelitian tersebut menyebutkan bahaya kecanduan gawai, game, dan teknologi informasi lebih berbahaya dibanding kecanduan narkoba.
“Kita boleh bangga anak kita melek teknologi. Tapi harus berhati-hati memilih konten karena sangat berpengaruh,” tekannya.
Empat Pilar sebagai Perekat Bangsa
Shintya menegaskan Pancasila sebagai ideologi yang menjadi nafas dan semangat kebersamaan. Nilai gotong royong menjadi roh yang menyatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
“Empat konsensus pilar kebangsaan menjadi perekat dan pemersatu,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah roh yang menjalin silaturahmi antaranak bangsa.
Sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap empat pilar kebangsaan. Dengan pemahaman yang kuat, diharapkan pemuda dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI.
Forum Pemuda Brebes menyambut positif kegiatan ini. Mereka berkomitmen menyebarkan nilai-nilai empat pilar di lingkungan masing-masing.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif antara Shintya dengan peserta.***

